Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Nasional

Pakar ITB: Gempa Flores M7,7 Berpotensi Ulang Tragedi 1992, Waspada Susulan Besar

2026-08-16 06:12 WIB · aindari · 👁 675 dibaca

Ahli gempa Institut Teknologi Bandung mengingatkan kemiripan karakteristik gempa Nagekeo dengan bencana Flores 34 tahun lalu serta risiko susulan signifikan.

Seorang profesor dari Institut Teknologi Bandung mengeluarkan peringatan serius terkait gempa berkekuatan 7,7 skala magnitudo yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu pekan ini. Irwan Meilano, Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, menyebut kejadian ini memiliki kemiripan mengkhawatirkan dengan gempa disertai tsunami yang melanda Flores pada 1992.

Gempa yang terekam Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pukul 07.30 WIB tersebut berpusat pada kedalaman dangkal antara 10 hingga 15 kilometer. Peristiwa tiga dekade lebih lalu mencapai magnitudo 7,9 dan menimbulkan korban besar, dengan lokasi dan mekanisme patahan yang menunjukkan kesamaan dengan guncangan terkini.

Menelisik pola historis, wilayah itu pernah mengalami gempa bermagnitudo 6,6 pada 2009 dan 7,9 di tahun berbeda. Irwan menyampaikan harapan bahwa segmen patahan belum sepenuhnya terlepas, namun tetap menekankan perlunya kewaspadaan maksimal. Menurutnya, situasi ini bisa mengulangi skenario Lombok 2018, ketika guncangan utama memicu perambatan retakan ke segmen patahan yang berdekatan.

Peringatan khusus ditujukan pada puluhan gempa susulan yang masih berlangsung dengan kekuatan di atas 6,0 skala magnitudo. Pakar geodesi ini menjelaskan bahwa rangkaian susulan tersebut mampu menghasilkan kerusakan struktural secara bertahap dan kumulatif pada bangunan. "Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang," tegasnya, menyoroti kemungkinan segmen berdekatan terpicu aktivitasnya.

Menurut analisis ahli tersebut, dampak masif yang terjadi dipicu empat faktor berbahaya yang bertemu: magnitudo besar, episentrum yang berada pada kedalaman relatif dangkal, jarak dekat antara pusat gempa dengan kawasan berpenghuni, serta potensi penguatan guncangan akibat kondisi tanah lokal dan mutu konstruksi bangunan yang ada.

Irwan mendorong tim tanggap darurat dan pemerintah setempat untuk segera melakukan penilaian menyeluruh terhadap ketahanan bangunan-bangunan vital. Prioritas utama menurutnya harus diberikan pada gedung sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan kantor pemerintahan, mengingat peran krusial infrastruktur tersebut dalam penanganan korban dan proses pemulihan pasca-bencana.

"Kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis," ujarnya, menekankan perhatian serius terhadap keselamatan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Imbauan untuk tidak mengendurkan kesiapsiagaan tetap bergema seiring masih berlangsungnya aktivitas seismik di wilayah tersebut.

Tag: gempa bumi, NTT, ITB, Flores, gempa susulan