Bank of Korea: AI Gerus 268.000 Lapangan Kerja Muda dalam Empat Tahun
2026-08-19 06:06 WIB · aindari · 👁 638 dibaca
Bank sentral Korea Selatan mencatat hampir seluruh penyusutan lapangan kerja anak muda terjadi di sektor-sektor dengan tingkat paparan kecerdasan buatan tinggi.
Bank of Korea (BOK) merilis laporan yang menyoroti ancaman nyata kecerdasan buatan terhadap kesempatan kerja generasi muda di Korea Selatan. Laporan yang dipublikasikan pada Selasa (18/8) itu mendasarkan temuannya pada data kepesertaan Layanan Pensiun Nasional (NPS) serta survei penduduk yang aktif secara ekonomi.
Dalam empat tahun terakhir, total lapangan kerja bagi kaum muda berkurang sebanyak 285.000. Yang mencolok, 268.000 di antaranya — atau sekitar 94 persen dari keseluruhan penurunan — berada di sektor-sektor dengan tingkat paparan AI yang tinggi. Angka ini menggambarkan betapa terkonsentrasinya dampak teknologi tersebut pada segmen tenaga kerja usia muda.
Sejumlah sektor mencatat penurunan yang signifikan. Lapangan kerja muda di industri layanan informasi turun paling tajam, mencapai 31,4 persen. Sektor penerbitan menyusul dengan penurunan 27,4 persen, diikuti pemrograman komputer sebesar 16,6 persen, dan jasa profesional 11,6 persen — semuanya dalam rentang waktu yang sama.
Menariknya, tren berlawanan justru terjadi pada pekerja berusia 50-an tahun. Di industri-industri yang sama, kelompok usia ini malah mencatat pertambahan lapangan kerja, bukan penyusutan. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antargenerasi yang kian melebar di pasar tenaga kerja Korea Selatan, di mana pengalaman dan senioritas tampaknya masih menjadi faktor pelindung di tengah gelombang otomatisasi.
BOK menekankan bahwa dampak AI terhadap ketenagakerjaan tidak bersifat seragam — semuanya bergantung pada cara perusahaan memilih untuk menerapkan teknologi tersebut. Ketika AI digunakan sebagai alat otomatisasi yang menggantikan tugas-tugas manusia, penurunan perekrutan tenaga kerja muda terbukti sangat tajam. Sebaliknya, penerapan AI secara augmentatif — yakni sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan pekerja, bukan menggantikannya — menunjukkan dampak negatif yang jauh lebih terbatas terhadap penyerapan tenaga kerja muda.
Laporan itu menegaskan bahwa akar persoalan bukan terletak pada adopsi AI itu sendiri, melainkan pada keputusan strategis perusahaan: apakah teknologi ini diposisikan untuk menggantikan manusia atau untuk mendukung mereka. Perbedaan pilihan itu, menurut BOK, menjadi faktor penentu apakah AI menjadi ancaman atau justru peluang bagi angkatan kerja muda.
Tag: Kecerdasan Buatan, Lapangan Kerja, Korea Selatan, Bank of Korea, Otomatisasi