Iran Tolak Klaim Trump atas Selat Hormuz, Sebut Pernyataan Presiden AS Itu Delusi
2026-08-19 17:09 WIB · aindari · 👁 615 dibaca
Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah Trump mengklaim jalur perairan strategis itu sebagai wilayah baru AS, memicu kecaman keras dari Teheran.
Pemerintah Iran bereaksi keras terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS. Teheran menyebut klaim tersebut sebagai delusi dan menolak mentah-mentah narasi yang dilontarkan Trump terkait salah satu jalur pelayaran tersibuk dan terpenting di dunia itu.
Selat Hormuz merupakan titik transit vital bagi perdagangan energi global, menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Laut Arab. Klaim sepihak AS atas perairan ini langsung memantik ketegangan diplomatik, mengingat Iran selama ini menganggap dirinya sebagai salah satu penjaga utama jalur tersebut.
Di tengah eskalasi retorika ini, Trump juga dikabarkan melontarkan ancaman terhadap Oman, negara yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz dan selama ini berperan sebagai mediator di kawasan. Sementara itu, Trump juga disebut mengajak pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk membuka dialog, menambah kompleksitas manuver diplomatik Washington dalam beberapa hari terakhir.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut angkat bicara dengan menekankan pentingnya kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Pernyataan Rubio mencerminkan kekhawatiran Washington terhadap kemungkinan gangguan arus lalu lintas kapal di jalur yang menjadi nadi distribusi minyak dunia tersebut.
Iran sendiri menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama sanksi terhadap ekspor minyak negara itu belum dicabut. Sikap ini menjadi sinyal bahwa Teheran siap menggunakan kendali atas selat tersebut sebagai kartu tekanan dalam negosiasi dengan Barat. Di sisi lain, Iran dan Oman dilaporkan tengah menyiapkan rute alternatif di kawasan Selat Hormuz, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya kedua negara mengantisipasi potensi penutupan atau gangguan di jalur utama.
Konflik retorika ini berpotensi memperkeruh sentimen pasar energi global, mengingat sebagian besar pasokan minyak dari negara-negara Teluk melewati Selat Hormuz. Ancaman penutupan selat, meski belum terealisasi, cukup untuk memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan negara-negara importir energi. Situasi ini juga menempatkan Oman dalam posisi yang rumit sebagai negara yang berbagi kendali atas perairan tersebut sekaligus menjadi sasaran ancaman dari Washington.
Tag: Selat Hormuz, Iran, Donald Trump, geopolitik, energi global