Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Iran Pertimbangkan Serangan ke Aset Militer AS di Eropa jika Konflik Meluas

2026-08-19 19:31 WIB · aindari · 👁 433 dibaca

Teheran menyiapkan sejumlah opsi eskalasi di luar Timur Tengah, termasuk menargetkan pangkalan militer AS di Eropa tenggara, di tengah mandeknya perundingan dengan Washington.

Iran tengah mengkaji kemungkinan menyerang aset militer Amerika Serikat yang berada di wilayah Eropa sebagai respons jika Presiden Donald Trump mengambil langkah eskalasi lebih jauh dalam konflik yang sedang berlangsung. Laporan Financial Times yang terbit Rabu mengungkap hal ini berdasarkan keterangan dua sumber yang memiliki kedekatan dengan pemerintah Iran.

Menurut laporan tersebut, pasukan Iran telah melakukan kajian terhadap kemungkinan serangan ke aset-aset militer AS di kawasan Eropa tenggara. Bulgaria menjadi salah satu negara yang masuk dalam pertimbangan itu, setelah bulan lalu menyetujui penggunaan Pangkalan Udara Bezmer oleh pesawat pengisian bahan bakar milik AS. Siprus juga disebut sebagai target potensial — catatan tambahan, pangkalan udara Inggris di wilayah Siprus sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan pesawat nirawak pada Maret lalu.

Selain infrastruktur militer di darat, Iran dilaporkan juga mengkaji opsi menargetkan kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz apabila situasi semakin memburuk. Salah satu sumber menyampaikan kepada Financial Times bahwa Teheran sedang menyiapkan berbagai skenario untuk memperluas jangkauan konflik, termasuk ke luar kawasan Timur Tengah, bila AS benar-benar merealisasikan ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran.

Para pejabat militer Iran sebelumnya memang telah menegaskan bahwa setiap pangkalan yang digunakan untuk menyerang wilayah Iran berpotensi dianggap sebagai target balasan. Pakar militer yang dikutip dalam laporan yang sama menyebut Iran memiliki rudal dengan jangkauan yang mencakup sebagian wilayah Eropa selatan dan tenggara, meski efektivitas serta akurasinya diperkirakan berkurang pada jarak yang lebih jauh.

Laporan ini muncul di tengah situasi diplomatik yang semakin buntu. Perundingan soal pembukaan kembali Selat Hormuz masih terhenti, sementara prospek dilanjutkannya dialog antara Teheran dan Washington kian meredup. Trump sendiri pada Selasa menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun yang telah dijadwalkan dengan Iran.

Sebelumnya, kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang bertujuan mengakhiri permusuhan dan membuka jalan bagi kesepakatan lebih luas. Namun kesepakatan itu kemudian runtuh di tengah saling tuding pelanggaran dan meletusnya kembali ketegangan. Hingga kini, upaya diplomatik belum menghasilkan terobosan berarti, baik dalam hal pembukaan Selat Hormuz maupun perundingan yang lebih komprehensif.

Tag: Iran, Amerika Serikat, Konflik Timur Tengah, Eropa, Selat Hormuz