Sri Sultan Kerahkan Pramuka DIY untuk Dukung Swasembada Pangan Nasional
2026-08-22 17:08 WIB · aindari · 👁 592 dibaca

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta organisasi Pramuka mengambil peran nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan, mulai dari menanam cabai di sekolah hingga memperkuat program Lumbung Mataraman.
Peringatan Hari Pramuka Ke-65 di Alun-Alun Wonosari, Gunungkidul, menjadi momentum bagi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk mengajak seluruh anggota Gerakan Pramuka DIY berkontribusi langsung dalam gerakan swasembada pangan. Sebagai Ketua Majelis Pembimbing Kwartir Daerah Pramuka DIY, Sultan menjadi pembina Apel Besar yang digelar pada Sabtu tersebut.
Sultan memilih Gunungkidul bukan tanpa alasan. Wilayah yang didominasi kawasan karst dengan musim kemarau panjang dan keterbatasan air itu, menurutnya, justru menjadi ruang belajar tentang ketangguhan. Kondisi alam yang keras di sana mengajarkan bahwa daya tahan tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Dalam pidatonya, Sultan mengaitkan gerakan swasembada pangan dengan falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana — ajaran untuk senantiasa menjaga keselamatan dan keselarasan dunia. Ia menegaskan bahwa falsafah tersebut relevan diterapkan dalam konteks pertanian: tanah tidak boleh dieksploitasi sembarangan, air tidak boleh disia-siakan, dan petani tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri. Peningkatan produksi pangan, kata Sultan, tetap harus memperhatikan keseimbangan alam dan kesuburan tanah. Teknologi boleh diterapkan, namun tidak boleh mengorbankan kelestarian alam maupun martabat manusia.
Sultan secara khusus mendorong Pramuka DIY memperkuat program Lumbung Mataraman yang sudah berjalan di wilayah tersebut. Program itu menghidupkan pekarangan rumah sebagai ruang produksi pangan, menjadikan keluarga sebagai simpul ketahanan pangan, dan kelurahan sebagai basis kemandirian. Sultan menyebutnya sebagai reaktualisasi kebudayaan agraris Yogyakarta yang perlu terus digerakkan.
Untuk memberi landasan historis, Sultan mengingatkan pidato Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang, pada 1971. Dalam pidato bertajuk "The Trend in Scouting" itu, Sultan IX menyatakan bahwa Pramuka tidak hanya dididik menjadi warga negara yang baik, tetapi juga manusia pembangun yang andal. Dari sana, Sultan HB X menilai tema Hari Pramuka Ke-65 — "Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045" — sudah tepat sasaran.
Sultan mengajak anggota Pramuka memulai dari langkah-langkah sederhana: menanam cabai di halaman sekolah, mendampingi warga menata pekarangan, hingga mengajak sesama untuk tidak membuang makanan. Ia juga meminta para pembina mendidik anak-anak agar mengenal pangan sejak dari prosesnya — menyentuh tanah dan menghargai hasil bumi. Ketika Pramuka mampu memaknai gerakan ini secara utuh, Sultan meyakini swasembada pangan bisa terwujud sekaligus sebagai gerakan kebudayaan dan gerakan kebangsaan yang memperkuat kedaulatan rakyat dari tingkat keluarga hingga kelurahan.
Tag: Pramuka, swasembada pangan, Sri Sultan HB X, Lumbung Mataraman, ketahanan pangan