Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Politik

Jelang Muktamar Ke-35, PWNU Jateng dan Ulama Sepuh Serukan Kongres NU yang Bersih dari Politik Uang

2026-08-23 17:06 WIB · aindari · 👁 533 dibaca

Berbagai elemen Nahdlatul Ulama kompak mendesak Muktamar Ke-35 digelar secara jujur, terbuka, dan bebas dari mobilisasi politik maupun praktik politik uang.

Menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, sejumlah elemen internal organisasi Islam terbesar di Indonesia itu menyuarakan keprihatinan sekaligus tuntutan agar forum tertinggi NU tersebut berlangsung dengan integritas. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengambil langkah konkret dengan mendeklarasikan komitmen agar muktamar dijalankan secara jujur, bersih, terbuka, dan beradab.

Kekhawatiran serupa datang dari kalangan kiai sepuh NU. Para ulama senior ini menyampaikan kegelisahan mereka atas potensi mobilisasi politik yang bisa mewarnai jalannya muktamar. Bagi mereka, forum yang seharusnya menjadi ajang musyawarah keagamaan dan organisasi itu dinilai rawan disusupi kepentingan-kepentingan di luar koridor nilai NU.

Sikap tegas juga datang dari Forum Ulama yang secara eksplisit menolak praktik politik uang dalam muktamar. Penolakan ini mencerminkan kekhawatiran nyata bahwa proses pemilihan kepemimpinan NU bisa ternoda oleh transaksi yang merusak marwah organisasi. Politik uang dalam forum keagamaan dianggap sebagai ancaman serius terhadap legitimasi hasil muktamar itu sendiri.

Di sisi lain, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan bahwa sebanyak 556 cabang dan wilayah berhak mengikuti Muktamar Ke-35 NU. Pernyataan ini penting dalam konteks memastikan keterwakilan yang luas dan adil dari seluruh penjuru Indonesia, sehingga hasil muktamar benar-benar mencerminkan suara akar rumput NU.

Puncak dari rangkaian seruan ini datang ketika sejumlah kiai sepuh berkumpul di kantor PBNU dan menyampaikan tujuh seruan bersama. Inti dari seruan tersebut adalah ajakan kepada seluruh peserta dan penyelenggara untuk mewujudkan muktamar yang bermartabat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut dikaitkan dalam momentum ini, memperkuat pesan bahwa kalangan ulama lintas lembaga menaruh perhatian besar terhadap kualitas penyelenggaraan muktamar.

Rangkaian deklarasi dan seruan ini menggambarkan betapa tingginya ekspektasi internal NU terhadap Muktamar Ke-35. Forum ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan penentu arah kepemimpinan dan kebijakan NU untuk periode ke depan. Tekanan dari berbagai pihak internal diharapkan menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa legitimasi muktamar bergantung pada kejujuran dan keterbukaan prosesnya.

Tag: Nahdlatul Ulama, Muktamar NU, Politik Uang, PWNU Jawa Tengah, Kiai Sepuh