Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Dokter Paru Ingatkan Penderita Asma Waspadai Serangan Akut Saat Musim Karhutla

2026-08-25 06:09 WIB · aindari · 👁 1,1rb dibaca

Paparan asap kebakaran hutan mengandung partikel dan gas berbahaya yang dapat memicu serangan asma akut hingga gangguan kardiorespirasi.

Penderita asma menghadapi risiko lebih tinggi saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda, terutama ancaman serangan asma akut akibat paparan asap yang mengandung berbagai zat berbahaya. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Senin.

Menurut Tjandra yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, asap karhutla mengandung partikel berukuran 2,5 mikron atau PM2.5 yang bila terhirup dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan. Selain partikel halus itu, asap kebakaran hutan juga mengandung gas berbahaya seperti nitrogen dioksida (NO2), ozon, dan hidrokarbon aromatik, serta berbagai bahan organik hasil pembakaran pohon dan tanaman. Kombinasi kandungan tersebut dapat membentuk campuran toksik yang membahayakan kesehatan manusia.

Bagi penderita asma, Tjandra menekankan pentingnya berkonsultasi dengan dokter mengenai jenis dan dosis obat yang tepat selama periode paparan asap. Penderita dianjurkan menggunakan obat inhaler jenis controller secara rutin sesuai petunjuk dokter, sekaligus memperhatikan ketersediaan obat reliever untuk digunakan saat gejala seperti sesak napas muncul.

Gejala yang perlu diwaspadai akibat paparan asap karhutla mencakup batuk berdahak, sesak napas, hingga nyeri dada — keluhan yang serupa dengan gangguan pernapasan pada umumnya. Dampak jangka pendeknya dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sedangkan dampak lanjutan meliputi perburukan infeksi paru, eksaserbasi asma, hingga peningkatan risiko gangguan kardiorespirasi, kata Tjandra yang juga menjabat Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.

Dampak karhutla tidak berhenti pada kesehatan fisik semata. Tjandra mengingatkan bahwa kebakaran dengan intensitas tinggi, cakupan luas, dan durasi panjang dapat mengganggu akses masyarakat ke fasilitas kesehatan. Transportasi di wilayah terdampak bisa terhambat, ketersediaan air bersih terganggu, komunikasi terputus, dan sumber daya setempat ikut tertekan.

Untuk meminimalkan risiko, Tjandra menyarankan masyarakat menghindari kawasan yang sedang terbakar jika memungkinkan, serta membatasi perjalanan yang tidak mendesak ke area dekat karhutla. Apabila terpaksa berada di sekitar lokasi kebakaran, penggunaan masker berkualitas baik — bahkan respirator — sangat dianjurkan demi melindungi saluran pernapasan dari paparan asap berbahaya.

Tag: asma, karhutla, kesehatan pernapasan, PM2.5, ISPA