Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Politik

Prabowo Mulai Program PLTS 100 GWp di Bali

2026-08-25 17:07 WIB · aindari · 👁 440 dibaca

Presiden Prabowo Subianto menghadiri peluncuran dan peletakan batu pertama program PLTS 100 GWp di Jembrana sebagai bagian dari agenda kemandirian energi nasional.

Presiden Prabowo Subianto menghadiri peluncuran sekaligus peletakan batu pertama program Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS 100 Gigawatt peak di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa siang. Dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo terlihat tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB dengan mengenakan setelan safari berwarna krem.

Agenda tersebut dihadiri sejumlah pejabat negara dan pimpinan lembaga terkait sektor ekonomi, energi, keamanan, serta badan usaha. Mereka antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, serta Gubernur Bali I Wayan Koster.

Program PLTS 100 GWp masuk dalam Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi, memperbesar porsi energi terbarukan, dan menekan ketergantungan pada sumber energi fosil. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden meminta pembangunan PLTS 100 GWp dipercepat dan dituntaskan pada 2029.

Menurut keterangan Prasetyo, efisiensi biaya listrik dari program tersebut diperkirakan dapat mencapai Rp73,9 triliun per tahun. Pemerintah juga menargetkan pembangunan 30 GWp PLTS pada 2026, bersamaan dengan penghentian 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD. Target itu disusun dengan mempertimbangkan besarnya potensi energi surya Indonesia yang disebut mencapai sekitar 3.294 GWp, sementara kapasitas yang sudah terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp.

Pembangunan program ini dirancang bertahap. Tahap pertama mencakup 17 GWp, tahap kedua 18 GWp, dan tahap ketiga 30 GWp. Sepanjang 2025, pemerintah telah membangun 15 pembangkit energi baru terbarukan, terdiri dari 12 PLTS dan tiga pembangkit listrik tenaga mikrohidro atau PLTMH. Nilai pembangunannya mencapai Rp103,3 miliar dan melayani 1.831 kepala keluarga serta 131 fasilitas umum.

Pada 2026, pembangunan berlanjut di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar melalui 39 lokasi PLTS Terpadu untuk 4.259 rumah tangga dengan nilai Rp450,2 miliar. Selain itu, tiga lokasi PLTMH disiapkan untuk melayani 464 rumah tangga dengan nilai Rp50,4 miliar. Program listrik desa juga telah menjangkau 1.403 lokasi di 36 provinsi, sementara 220.845 rumah tangga tidak mampu menerima manfaat Bantuan Pasang Baru Listrik.

Pemerintah memproyeksikan PLTS 100 GWp tidak hanya menjadi proyek energi, tetapi juga penggerak ekonomi melalui investasi pembangkit, baterai, jaringan, penguatan industri solar PV domestik, dan pembukaan pekerjaan hijau. Prasetyo menyebut RUPTL 2025–2034 diperkirakan menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan kerja, dengan lebih dari 760 ribu di antaranya berpotensi masuk kategori green jobs. Pemerintah menyatakan pembangunan PLTS 100 GWp akan dikawal secara bertahap dan terukur.

Tag: Prabowo Subianto, PLTS, energi terbarukan, Jembrana, politik energi