Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

PBB: Kelaparan di Sudan dan Gaza Jadi Noda Sejarah di Tengah Rekor Konflik Global

2026-08-26 09:31 WIB · aindari · 👁 623 dibaca

Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut konfirmasi kelaparan di Sudan dan Gaza sebagai catatan memalukan bagi dunia, saat sidang Dewan Keamanan membahas krisis pangan yang menjangkau 266 juta orang.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa terjadinya kelaparan di Sudan dan Jalur Gaza merupakan aib dalam sejarah kemanusiaan. Pernyataan itu ia sampaikan pada Selasa (25/6) dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang membahas kerawanan pangan global.

Guterres memaparkan bahwa tahun 2025 mencatat dua rekor sekaligus: jumlah konflik bersenjata tertinggi sejak Perang Dunia II, dan tingkat kelaparan global yang belum pernah setinggi ini. Sedikitnya 266 juta orang kini hidup dalam kondisi kerawanan pangan akut. Dari 13 wilayah paling terdampak, 12 di antaranya mengalami kelaparan akibat kekerasan bersenjata — bukan semata bencana alam atau kegagalan panen.

Pelaksana Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) Carl Skau menggambarkan bagaimana perang di berbagai kawasan berdampak langsung pada meja makan warga sipil yang jauh dari medan pertempuran. Ia memperkenalkan kerangka analisis "tiga titik penyumbatan" yang mencakup Selat Hormuz, Laut Merah, dan Laut Hitam. Menurut Skau, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sepertiga perdagangan pupuk dunia; gangguan di sana telah menekan ketersediaan pupuk sekaligus mendorong harga minyak naik 36 persen sejak konflik di Iran pecah. Di sisi lain, volume pengiriman biji-bijian melalui Selat Istanbul turun 40 persen secara tahunan, membuat negara-negara pengimpor seperti Somalia berada dalam posisi sangat rentan. Di Sudan sendiri, harga pangan pokok telah melonjak hampir 40 persen sejak Februari.

CEO Action Against Hunger Perrine Benoist melaporkan lebih dari 900 serangan terhadap sistem pangan di Sudan sejak April 2023, mulai dari pengeboman pasar hingga penjarahan ternak. Ia juga menyoroti bahwa perempuan di Sudan secara statistik menghadapi risiko kelaparan yang lebih tinggi. Benoist memperingatkan soal "jam malnutrisi" — anak-anak dapat mengalami kegagalan fungsi organ dan kondisi sangat kurus hanya dalam tiga pekan setelah kehilangan akses pangan.

Merespons krisis ini, Guterres mengusulkan sejumlah langkah konkret. Ia mendorong pembangunan kepercayaan bertahap melalui verifikasi dan pendaftaran netral kapal-kapal pengangkut pupuk, seraya menegaskan bahwa mekanisme itu bersifat fasilitatif dan bukan pengganti pemulihan penuh hak navigasi. Ia juga mendesak penerapan penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2417 guna mencegah perampasan akses warga sipil terhadap pangan dan air, serta mengusulkan perlindungan terhadap lahan pertanian, pelabuhan, dan fasilitas penyimpanan. Sanksi terhadap pihak yang menghalangi bantuan kemanusiaan turut ia rekomendasikan.

Guterres menekankan bahwa Dewan Keamanan tidak boleh menunggu deklarasi kelaparan resmi sebelum bertindak. Sementara itu, Skau menyebut ada "secercah harapan" di Gaza, namun mengungkapkan bahwa WFP terpaksa menolak enam dari tujuh anak penderita malnutrisi di Afghanistan karena keterbatasan pendanaan — gambaran nyata dari kesenjangan respons kemanusiaan global.

Tag: PBB, kelaparan global, Sudan, Gaza, krisis pangan