Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

FBI dan Kejaksaan AS Sita Domain Peretas Diduga Disponsori Beijing, NASA hingga Federal Reserve Jadi Sasaran

2026-08-27 10:01 WIB · aindari · 👁 764 dibaca

Otoritas Amerika Serikat mengumumkan penyitaan domain internet yang digunakan kelompok peretas berafiliasi pemerintah China untuk menyerang lembaga-lembaga federal.

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan keberhasilan menggagalkan serangkaian serangan siber yang diyakini didalangi oleh kelompok peretas dengan dukungan pemerintah China. Pengumuman itu disampaikan pada Rabu, 26 Agustus, oleh Departemen Kehakiman AS bersama Biro Investigasi Federal (FBI), yang menyatakan telah menyita sejumlah domain internet yang berfungsi sebagai infrastruktur serangan.

Di antara lembaga yang menjadi target serangan tercatat nama-nama besar seperti Lembaga Penerbangan dan Antariksa (NASA), Federal Reserve, Senat AS, Institut Kesehatan Nasional (NIH), Departemen Energi, serta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan. Departemen Kehakiman sendiri turut masuk dalam daftar sasaran. Selain institusi federal AS, sejumlah perusahaan swasta dari Amerika Serikat dan Korea Selatan juga dilaporkan menjadi korban.

Mengacu pada dokumen yang telah dibuka untuk publik di pengadilan federal California, otoritas AS mengidentifikasi dua platform peretasan yang digunakan, yakni "QScan" dan "QTRouter". Keduanya dioperasikan oleh kelompok yang disebut "QTFY", yang diduga bekerja atas perintah perusahaan teknologi asal China bernama Nanjing Xinjiuwei Network Technology Co. Kelompok ini disebut mulai beroperasi sejak 2018 dan memiliki keterkaitan bisnis dengan sejumlah unit di bawah Kementerian Keamanan Negara China.

Jaksa Agung AS Todd Blanche menyebut penyitaan domain tersebut sebagai bagian dari rangkaian operasi teknis yang lebih luas untuk membongkar aktivitas peretasan yang disponsori Republik Rakyat China. Meski demikian, Departemen Kehakiman tidak mengungkap secara rinci sejauh mana dampak yang dialami masing-masing lembaga yang menjadi sasaran.

Pengumuman ini muncul dalam konteks yang cukup sensitif secara diplomatik. Sekitar sebulan ke depan, Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih. Isu kecerdasan buatan dan teknologi mutakhir diperkirakan akan mendominasi agenda pertemuan tersebut, sehingga tuduhan peretasan skala besar ini berpotensi memperkeruh suasana menjelang pembicaraan tingkat tinggi itu.

Insiden ini bukan yang pertama mempertemukan AS dan China dalam ketegangan di ranah siber. Sebelumnya, Beijing pernah menepis tuduhan serupa dengan menyebut AS menggunakan isu peretasan sebagai dalih untuk menjatuhkan sanksi sepihak.

Tag: keamanan siber, China, Amerika Serikat, FBI, peretasan