Trump Ikat Kerja Sama Nuklir dengan Saudi pada Syarat Normalisasi Hubungan dengan Israel
2026-08-27 06:07 WIB · aindari · 👁 595 dibaca

Amerika Serikat mengajukan perjanjian kerja sama nuklir dengan Arab Saudi ke Kongres, namun Trump menegaskan pengakuan Saudi terhadap Israel menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan.
Amerika Serikat secara resmi mengajukan rancangan perjanjian kerja sama nuklir dengan Arab Saudi ke Kongres, menandai langkah konkret dalam upaya Washington mempererat hubungan strategis dengan Riyadh di bidang energi atom. Namun Presiden Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak bisa berjalan tanpa satu syarat politik yang berat: Arab Saudi harus berdamai dan mengakui Israel.
Trump secara terbuka mendesak Arab Saudi untuk memulihkan hubungan dengan Israel sebagai prasyarat agar perjanjian nuklir tersebut dapat dilanjutkan. Posisi ini menempatkan Riyadh di persimpangan antara kepentingan strategis jangka panjang dalam pengembangan energi nuklir sipil dan dinamika politik kawasan yang masih rumit, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza.
Dari sisi Saudi, Raja Salman disebut selangkah lebih dekat untuk mendapatkan akses ke teknologi dan fasilitas nuklir setelah mendapat restu dari Trump. Ini menunjukkan bahwa negosiasi antara kedua negara telah mencapai tahap yang cukup matang, meski ganjalan soal Israel belum terselesaikan.
Pengajuan perjanjian ke Kongres merupakan prosedur wajib dalam hukum Amerika Serikat untuk setiap kesepakatan kerja sama nuklir dengan negara asing, yang dikenal sebagai perjanjian 123 — merujuk pada pasal terkait dalam Undang-Undang Energi Atom AS. Kongres memiliki kewenangan untuk meninjau dan menolak perjanjian semacam ini, sehingga proses legislatif menjadi penentu berikutnya.
Syarat normalisasi dengan Israel yang diajukan Trump mencerminkan kerangka besar kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, yang selama ini mendorong negara-negara Arab untuk mengikuti jejak Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko dalam menjalin hubungan resmi dengan Israel melalui Perjanjian Abraham. Arab Saudi selama ini menjadi target utama perluasan normalisasi tersebut, mengingat bobot politiknya sebagai pemimpin dunia Arab dan penjaga dua kota suci Islam.
Sejauh ini Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi yang mengindikasikan kesediaan untuk memenuhi syarat tersebut. Riyadh sebelumnya menyatakan bahwa normalisasi dengan Israel hanya bisa terjadi jika ada kemajuan nyata menuju pembentukan negara Palestina merdeka — sebuah posisi yang sulit dikompromikan dalam situasi geopolitik saat ini.
Perkembangan ini menempatkan perjanjian nuklir AS-Saudi sebagai salah satu isu diplomatik paling kompleks di kawasan, di mana kepentingan energi, keamanan, dan politik Timur Tengah saling bersilangan dalam satu paket negosiasi yang belum menemukan titik temu.
Tag: Arab Saudi, Amerika Serikat, Nuklir, Israel, Timur Tengah