Militer Iran Ancam Perluas Konflik ke Infrastruktur Energi dan Jalur Komunikasi Regional
2026-08-26 17:05 WIB · aindari · 👁 335 dibaca

Juru bicara militer Iran memperingatkan bahwa perang dengan AS berpotensi merambah arena baru, termasuk infrastruktur energi dan kabel komunikasi bawah laut di kawasan.
Teheran mengeluarkan peringatan keras soal eskalasi konflik. Juru Bicara Militer Iran Brigjen Mohammad Akraminia menyatakan bahwa perang antara Iran dan Amerika Serikat, jika kembali meletus, tidak akan terbatas pada medan pertempuran yang sudah ada, melainkan bisa menyeret kawasan yang jauh lebih luas ke dalam pusaran konflik.
Akraminia menyampaikan pernyataan itu kepada Kantor Berita Mehr pada Rabu. Ia menegaskan bahwa setiap kesalahan perhitungan dari pihak lawan Iran akan memantik respons langsung yang berpotensi memperluas jangkauan geografis pertempuran. Selat Bab al-Mandab dan pangkalan militer AS di Suriah ia sebut sebagai contoh wilayah yang sebelumnya berada di luar arena konflik, namun kini telah terseret ke dalamnya.
Lebih jauh, Akraminia secara eksplisit menyinggung infrastruktur energi dan jalur komunikasi sebagai sasaran potensial. Ia merujuk pada jaringan pipa dan kabel yang sebagian besar membentang di dasar laut, mencakup perairan lepas pantai Iran, Semenanjung Arab, hingga Teluk Oman. Menurutnya, di mana pun musuh memiliki kepentingan strategis, wilayah itu dapat menjadi sasaran sah angkatan bersenjata Iran apabila terjadi agresi.
Di sela pernyataan soal eskalasi, Akraminia juga mendesak Qatar untuk lebih aktif mengusut nasib tiga pilot Iran yang belum ditemukan sejak serangan udara Iran ke pangkalan AS di Qatar pada 2 Maret lalu. Dalam operasi itu, dua pesawat Sukhoi Iran menyerang pangkalan tersebut sebelum akhirnya ditembak jatuh. Dari empat pilot yang terlibat, jenazah satu orang bernama Majid Kazemi telah ditemukan, sementara tiga lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Qatar membantah menahan para pilot tersebut dan menyatakan tim penyelamatnya tidak menemukan bukti adanya penangkapan.
Pernyataan ini muncul dalam konteks konflik Iran-AS yang bermula sejak 28 Februari, ketika serangan gabungan militer AS dan Israel menghantam Iran. Konflik kemudian meluas setelah Iran membalas dengan menyerang posisi militer AS di berbagai titik kawasan, mengganggu lalu lintas maritim di sejumlah jalur strategis. Kedua negara akhirnya menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni dengan mediasi Qatar dan Pakistan sebagai langkah awal menghentikan pertempuran dan membuka ruang perundingan.
Namun ketegangan belum sepenuhnya mereda. Iran menuduh AS tidak menjalankan isi kesepakatan MoU secara penuh, sementara Qatar dan Pakistan terus menjalankan peran diplomatik di antara kedua pihak. Pernyataan militer Iran terbaru ini menambah tekanan pada proses diplomasi yang masih berjalan, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru atas stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi global.
Tag: Iran, Amerika Serikat, konflik regional, infrastruktur energi, diplomasi