Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Dokter Paru Maluku Lawan TBC di Tengah Lautan: Deteksi Dini Jadi Kunci

2026-08-27 06:11 WIB · aindari · 👁 625 dibaca

Hanya 14 dokter spesialis paru untuk Maluku dan Maluku Utara, program Cek Kesehatan Gratis hadir membantu deteksi TBC lebih awal sebelum penyakit memburuk.

Menyeberangi perairan Ambon menuju Masohi sudah menjadi rutinitas bagi dr. Reza Pahlevi Amahoru. Dokter spesialis paru asal Maluku Tengah ini membagi waktu praktiknya tiga hari di Masohi, tiga hari berikutnya di Ambon — bolak-balik antarpulau demi memastikan pasien tuberkulosis (TBC) tetap mendapat penanganan. Intensitas perjalanannya bahkan membuat petugas loket pelabuhan mengenali wajahnya.

Kondisi itu mencerminkan tantangan nyata layanan kesehatan di Maluku. Seluruh wilayah Maluku dan Maluku Utara hanya dilayani 14 dokter spesialis paru. Di tengah keterbatasan jumlah tenaga medis dan geografi kepulauan yang didominasi lautan, para dokter ini bergiliran menjangkau pasien agar pengobatan tidak terputus.

Salah satu pasien yang datang menemui Reza adalah seorang pria paruh baya dengan keluhan batuk berdahak berdarah dan demam yang tak kunjung reda. Berbekal surat rujukan dari puskesmas, pria itu menjalani pemeriksaan dan diduga mengidap TBC. Kasus ini mengingatkan bahwa tidak semua gangguan kesehatan menunjukkan gejala sejak awal — dan inilah alasan deteksi dini menjadi sangat penting.

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama berperan sebagai pintu masuk deteksi lebih awal, termasuk untuk risiko TBC. Menurut Reza, program semacam ini sangat membantu menemukan kasus sebelum penyakit berkembang lebih jauh dan lebih sulit ditangani.

Namun menemukan kasus hanyalah langkah pertama. Pengobatan TBC berlangsung enam bulan — dua bulan fase awal dan empat bulan fase lanjutan — dan kepatuhan pasien menentukan keberhasilan terapi. Tantangan justru sering muncul saat kondisi pasien mulai membaik: batuk mereda, nafsu makan pulih, tubuh kembali bertenaga. Merasa sudah sembuh, sebagian pasien menghentikan obat sebelum waktunya.

Pasien pria yang ditangani Reza ternyata tidak menjalani pengobatan secara patuh. Ketika diperiksa ulang, tanda-tanda infeksi masih ditemukan. Dalam situasi ini, Reza tidak bisa langsung mengulang resep — kemungkinan resistensi obat harus dikaji terlebih dahulu agar pengobatan berikutnya efektif. Meski obat antituberkulosis tersedia gratis di puskesmas melalui program nasional, menjalani terapi harian selama enam bulan sambil menghadapi efek samping tetap menjadi perjuangan tersendiri bagi pasien.

Bagi Reza, pengalaman itu menegaskan bahwa penanganan TBC adalah rangkaian panjang: diagnosis, pengobatan, pemantauan, hingga kesembuhan total. TBC yang tidak dituntaskan bukan hanya berisiko terus menular, tetapi juga dapat meninggalkan kerusakan permanen pada paru-paru seperti bronkiektasis. Penyebaran dokter spesialis ke seluruh kabupaten dan kota, khususnya di wilayah kepulauan, dinilai penting untuk mempercepat akses layanan dan memastikan rantai penanganan ini tidak putus di tengah jalan.

Tag: TBC, Cek Kesehatan Gratis, Maluku, dokter spesialis paru, deteksi dini