Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

AI Bantu Seleksi Embrio Terbaik dalam Program Bayi Tabung, Keputusan Tetap di Tangan Dokter

2026-08-27 17:13 WIB · aindari · 👁 634 dibaca

Kecerdasan buatan kini mampu menganalisis ritme pembelahan sel dan kualitas kromosom embrio secara objektif, namun otoritas medis tetap sepenuhnya milik dokter.

Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memainkan peran signifikan dalam prosedur bayi tabung, khususnya dalam proses seleksi embrio sebelum ditanamkan ke rahim. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi dari Universitas Indonesia, dalam sebuah temu media di Jakarta, Kamis.

Menurut Budi yang juga menjabat Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), keunggulan utama AI terletak pada kemampuannya memproses data dalam jumlah sangat besar dengan kecepatan tinggi. Dalam konteks bayi tabung, kemampuan ini dimanfaatkan untuk mengurutkan dan mengevaluasi seluruh embrio yang tersedia berdasarkan sejumlah parameter biologis, mulai dari ritme pembelahan sel hingga normalitas kromosom.

Setiap tahap pembelahan sel diukur secara mikroskopis oleh sistem AI guna memprediksi embrio mana yang memiliki potensi implantasi tertinggi. Budi menjelaskan bahwa pengamatan semacam ini tidak mungkin dilakukan secara akurat dengan mata telanjang. Dengan bantuan AI, dokter dapat memperoleh rekam jejak perkembangan embrio secara menyeluruh dan terukur, bukan sekadar gambaran sesaat.

Selain AI, sejumlah teknologi pendukung lain juga semakin banyak digunakan dalam program bayi tabung. Pre-Implantation Genetic Testing (PGT) memungkinkan seleksi embrio berdasarkan kondisi kromosom sebelum proses penanaman, sekaligus menyaring embrio yang membawa kelainan bawaan berat. Ada pula inkubator cerdas yang dilengkapi teknologi time-lapse, memungkinkan pemantauan perkembangan embrio secara terus-menerus tanpa perlu mengeluarkannya dari inkubator, sehingga suhu dan kondisi lingkungan tetap terjaga stabil.

Meski peran AI dalam proses ini cukup besar, Budi menegaskan bahwa posisi dokter tidak tergantikan. AI hanya berfungsi sebagai pemberi rekomendasi, sedangkan seluruh keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga medis yang menangani pasien. Ia menyebut tidak mungkin menyerahkan keputusan kepada mesin dalam konteks pelayanan kesehatan.

Namun demikian, Budi mengingatkan bahwa dokter yang tidak mengikuti perkembangan teknologi, termasuk AI, berisiko tertinggal dalam memberikan pelayanan berkualitas kepada masyarakat. Penguasaan teknologi bukan berarti menggantikan peran dokter, melainkan memperkuat kapasitas mereka dalam mengambil keputusan yang lebih tepat dan berbasis data.

Tag: bayi tabung, kecerdasan buatan, embrio, fertilitas, teknologi kesehatan