Iran Puji Sikap China yang Menolak Sanksi AS, Mata Uang Rial Terpuruk ke Level Terendah
2026-08-28 06:14 WIB · aindari · 👁 720 dibaca

Teheran menyambut positif penolakan China atas sanksi ekonomi Amerika Serikat, sementara nilai tukar rial Iran merosot hingga 2 juta per dolar dan antrean panjang mewarnai sejumlah pompa bensin.
Iran secara terbuka memuji posisi China yang menolak sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Teheran. Dukungan Beijing dinilai sebagai bentuk solidaritas di tengah tekanan internasional yang kian mengimpit perekonomian Iran.
Sanksi terbaru dari Washington langsung memukul nilai tukar mata uang Iran. Rial terperosok ke angka 2 juta per dolar AS, sebuah level yang mencerminkan betapa beratnya beban yang ditanggung warga biasa. Kehidupan sehari-hari masyarakat Teheran dilaporkan semakin sulit seiring melemahnya daya beli akibat depresiasi mata uang yang tajam ini.
Dampak sanksi juga terasa di sektor energi domestik. Antrean panjang kendaraan terpantau di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Iran, menandakan tekanan distribusi yang mulai dirasakan masyarakat luas. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana kebijakan ekonomi dari luar negeri dapat berimbas langsung pada rutinitas warga.
Di sisi lain, Amerika Serikat dikabarkan mengurungkan niat untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran, setidaknya untuk saat ini. Situasi ini menempatkan hubungan Washington-Teheran dalam ketegangan yang bersifat ekonomi dan diplomatik, bukan militer secara langsung. China, yang kerap disebut sebagai "duri dalam daging" bagi strategi tekanan AS terhadap Iran, mempertegas posisinya dengan menolak legitimasi sanksi sepihak tersebut.
Penolakan Beijing bukan sekadar pernyataan diplomatik. China selama ini dikenal sebagai salah satu mitra dagang utama Iran, terutama dalam sektor energi, sehingga sikapnya memiliki bobot strategis yang nyata. Dukungan ini berpotensi meredam sebagian efek isolasi ekonomi yang ingin dicapai AS melalui rezim sanksinya.
Namun demikian, tekanan yang dirasakan rakyat Iran tetap berlangsung nyata. Pelemahan rial yang ekstrem dan kelangkaan bahan bakar menjadi penanda bahwa sanksi AS masih memiliki daya gigit yang signifikan terhadap perekonomian domestik Iran, terlepas dari ada tidaknya dukungan dari negara-negara mitra seperti China.
Ketegangan antara Washington dan Teheran ini berpotensi terus mempengaruhi sentimen pasar regional dan dinamika geopolitik di Timur Tengah, terutama jika eskalasi diplomatik antara AS dan China turut meningkat seiring perbedaan sikap keduanya atas isu sanksi ini.
Tag: Iran, China, Sanksi AS, Rial Iran, Geopolitik