Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

Seni Lukis Jadi Jembatan Pemulihan Jiwa Anak Korban Bencana di Aceh Tamiang

2026-08-31 06:10 WIB · aindari · 👁 357 dibaca

Kemenekraf menggandeng seniman lokal dan psikolog klinis untuk membantu 100 anak korban banjir bandang Aceh Tamiang pulih melalui program melukis bertema harapan.

Seratus anak-anak korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang mendapat pendampingan pemulihan psikososial melalui program seni lukis yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf). Program bertajuk "Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-Anak" ini menyasar 50 siswa SD dan 50 siswa SMP yang terdampak bencana.

Direktur Kuliner Kemenekraf, Romi Astuti, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur fisik. Menurutnya, kondisi psikologis anak-anak yang terdampak juga membutuhkan perhatian serius. Seni, dalam hal ini, difungsikan sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk mengungkapkan ketakutan sekaligus harapan mereka.

Para peserta didampingi oleh mentor profesional, seniman lokal, dan psikolog klinis. Mereka diajak menciptakan karya bertema "Bangkit" dan "Harapan Baru". Salah satu aspek yang menonjol dari program ini adalah penggunaan pigmen alami yang berasal dari lumpur dan debu sisa bencana sebagai medium melukis — sebuah simbolisasi transformasi trauma menjadi karya seni.

Pendiri Kids Biennale Indonesia, Agatha Anggira Paramita Putri atau dikenal sebagai Gie Sanjaya, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan metode observe, connect, invite, guide, reflect (KBI) dalam pendampingan. Metode ini menempatkan proses ekspresi anak sebagai prioritas utama, bukan semata hasil akhir karya. Seni dipandang sebagai jembatan pemulihan jiwa, bukan sekadar kegiatan keterampilan.

Program ini juga memiliki dimensi ekonomi kreatif. Karya-karya yang dihasilkan peserta akan dikurasi dan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai jual, seperti art print, tas, dan cenderamata. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya diajak pulih secara psikologis, tetapi juga diperkenalkan pada potensi ekonomi kreatif sejak dini.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Aceh Tamiang, Yusriati, menyambut positif inisiatif pemerintah pusat ini. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai upaya menyalakan optimisme dan melatih ketangguhan anak-anak pascabencana, bukan sekadar pelatihan melukis biasa. Program ini merupakan bagian dari implementasi Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para peserta akan membuat instalasi umbul-umbul kolektif. Karya tersebut rencananya dipamerkan terlebih dahulu di tingkat lokal Aceh Tamiang sebelum dibawa ke Pameran Nasional di Jakarta.

Tag: trauma healing, Aceh Tamiang, ekonomi kreatif, bencana banjir, pendidikan anak