Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Militer AS Hancurkan Peluncur Rudal Iran di Pulau Larak, Pertama Sejak Juli

2026-08-31 08:31 WIB · aindari · 👁 902 dibaca

Serangan drone AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak yang menghadap Selat Hormuz, memicu ancaman balasan dari Garda Revolusi Islam.

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap dua peluncur rudal milik Iran yang berada di Pulau Larak pada Minggu lalu. Ini merupakan serangan pertama yang menyasar wilayah Iran sejak akhir Juli, menurut keterangan seorang pejabat AS kepada media Axios.

Serangan tersebut dilakukan setelah jeda sekitar sebulan dalam keterlibatan militer langsung antara kedua negara. Sasaran operasi ini adalah sistem peluncur yang diduga tengah dipersiapkan untuk menembakkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz — jalur perairan sempit yang memisahkan Pulau Larak dari Pulau Great Quoin milik Oman dengan jarak hanya sekitar 39 kilometer. Kantor berita Tasnim Iran melaporkan bahwa serangan itu diduga dilakukan menggunakan drone, meski rincian lebih lanjut mengenai skala kerusakan belum tersedia.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi adanya korban jiwa dan luka-luka di pihak mereka, baik dari kalangan pejuang maupun warga sipil. IRGC menyatakan akan membalas serangan tersebut, meski belum merinci bentuk respons yang akan diambil.

Ketegangan di Selat Hormuz memang sudah berlangsung sejak lama dalam konflik yang lebih luas antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa seluruh ranjau telah berhasil disingkirkan dari jalur pelayaran itu dan menegaskan berlakunya kebijakan tanpa toleransi terhadap penempatan ranjau baru. Trump juga menyebut bahwa AS menggunakan teknologi Space Force untuk memantau kawasan tersebut dengan tingkat presisi tinggi. Di sisi lain, pejabat Iran menegaskan bahwa hanya mereka yang mengetahui lokasi pasti ranjau-ranjau di perairan strategis itu.

Latar belakang konflik ini bermula dari serangan AS ke Iran pada akhir Februari. Meski sempat ada titik terang ketika kedua pihak menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar, ketegangan kembali memuncak pada Juli setelah muncul perselisihan soal hak navigasi di selat tersebut. AS kemudian melancarkan kampanye pemboman selama dua pekan dan memberlakukan kembali blokade laut.

Hingga kini belum jelas apakah serangan terbaru di Pulau Larak merupakan tindakan tunggal yang terisolasi atau bagian dari kampanye militer yang lebih panjang. Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian komunitas internasional mengingat jalur ini merupakan salah satu arteri perdagangan energi global yang paling vital.

Tag: Amerika Serikat, Iran, Selat Hormuz, Konflik Timur Tengah, IRGC