Pezeshkian Sebut MoU Damai Iran-AS Menguntungkan Kawasan, Tegaskan Iran Tak Akan Menyerah
2026-08-30 19:31 WIB · aindari · 👁 718 dibaca

Presiden Iran membela perjanjian gencatan senjata dengan AS sebagai langkah yang berpihak pada stabilitas regional, meski nasib perundingan lanjutan masih menggantung.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa nota kesepahaman perdamaian yang ditandatangani antara Teheran dan Washington membawa manfaat tidak hanya bagi Iran, tetapi juga bagi kawasan Asia Barat dan dunia secara keseluruhan. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah upacara di Teheran pada Sabtu, 29 Juni 2026, dan dikutip dari situs resmi kantornya.
Menurut Pezeshkian, pelaksanaan perjanjian tersebut akan memangkas ruang gerak Amerika Serikat dan Israel untuk menciptakan ketidakstabilan di kawasan. Ia berharap negara-negara di wilayah itu dapat memanfaatkan momentum ini untuk menempuh jalan pembangunan dan perdamaian. Presiden Iran itu juga menekankan pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim sebagai cara menggagalkan apa yang ia sebut sebagai rencana pihak-pihak yang memusuhi Iran.
Dalam kesempatan yang sama, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai konflik bersenjata. Ia menyatakan negaranya tidak menginginkan perang, namun akan merespons setiap bentuk agresi dengan tegas. Ia menekankan bahwa tidak ada kekuatan luar yang mampu memaksa bangsa yang berdiri dengan penuh tekad untuk tunduk.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada hari yang sama memperingatkan adanya upaya berskala besar untuk memanipulasi pasar energi global. Ia menyebut langkah itu berpotensi menguntungkan pihak tertentu sekaligus memperpanjang konflik antara AS dan Iran — sebuah sinyal yang bisa mempengaruhi sentimen pasar energi global jika ketegangan kembali meningkat.
Terpisah dari pernyataan diplomatik tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan operasi keamanan di provinsi Sistan dan Baluchestan, wilayah tenggara Iran. Dalam operasi itu, pasukan Iran mengklaim telah melumpuhkan sebuah kelompok yang mereka sebut berafiliasi dengan AS dan Israel, dengan satu anggota tewas dan enam lainnya ditangkap.
Latar belakang situasi ini bermula dari serangan gabungan Israel dan AS terhadap Teheran serta sejumlah kota Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta aset militer AS di kawasan, sekaligus memperketat kontrol atas Selat Hormuz. Merespons eskalasi itu, kedua pihak menandatangani MoU pada 18 Juni untuk menghentikan permusuhan di semua lini.
Berdasarkan kesepakatan itu, Iran dan AS dijadwalkan merampungkan perundingan akhir dalam 60 hari, dengan tenggat 17 Agustus. Namun, hingga kini nasib perundingan tersebut belum jelas setelah ketegangan kembali memanas pada bulan lalu, membuat prospek kesepakatan permanen masih jauh dari pasti.
Tag: Iran, Amerika Serikat, MoU perdamaian, Timur Tengah, Pezeshkian