Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Trump Buka Peluang Serangan Lanjutan ke Iran di Tengah Konflik yang Belum Tuntas

2026-09-01 08:31 WIB · aindari · 👁 647 dibaca

Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran tetap terbuka, meski kedua negara saat ini tidak dalam kondisi permusuhan aktif.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa opsi serangan militer terhadap Iran tidak tertutup, meski kapasitas pertahanan negara itu disebutnya telah melemah drastis akibat serangkaian serangan sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada media pada Senin (31/8).

Dalam keterangannya, Trump menggambarkan kondisi militer Iran saat ini dalam keadaan yang sangat terpuruk — sebagian besar pemimpinnya telah tewas, angkatan laut dan angkatan udaranya lumpuh, serta infrastruktur pengawasan mereka hampir seluruhnya hancur. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berarti AS menutup kemungkinan untuk kembali melancarkan serangan.

Sebelum pernyataan Trump, portal berita Axios melaporkan bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan serangan terbatas ke Iran. Tujuannya ganda: mencegah Teheran memulihkan kemampuan militernya, sekaligus meredam ancaman terhadap kapal tanker minyak serta aset Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS yang beroperasi di kawasan tersebut.

Ketegangan kembali memanas sehari sebelumnya, ketika sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Selat Hormuz. Axios menyebut AS diduga melancarkan serangan yang menargetkan peluncur rudal Iran di pulau itu. Teheran kemudian dilaporkan membalas dengan menembakkan rudal ke arah kapal-kapal AS di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di kawasan. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan mereka bertujuan mencegah pasukan Iran menanam ranjau di jalur perairan strategis tersebut.

Konflik antara kedua negara ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS bersama Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran. Iran membalas dengan serangan terhadap kepentingan AS di kawasan. Pada pertengahan Juni 2026, kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, namun gencatan senjata itu tidak bertahan lama — keduanya kembali saling serang tak lama setelah kesepakatan diteken.

Hingga kini, konflik tersebut belum menemukan penyelesaian. Meski tidak ada pertempuran aktif yang sedang berlangsung, Washington memilih menambah tekanan melalui jalur ekonomi sebagai instrumen untuk memperlemah posisi Teheran secara finansial.

Situasi yang masih cair ini memunculkan kekhawatiran akan eskalasi baru, terutama mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi lalu lintas minyak global. Pernyataan Trump yang membuka peluang serangan lanjutan berpotensi memperburuk sentimen pasar energi dan meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Tag: Amerika Serikat, Iran, Donald Trump, Selat Hormuz, konflik militer