Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Pakar Onkologi: Efek Samping Radioterapi Bergantung Area Tubuh, Bukan Berlaku Menyeluruh

2026-09-01 17:11 WIB · aindari · 👁 757 dibaca

Dokter spesialis onkologi radiasi mengingatkan bahwa kekhawatiran berlebihan terhadap radioterapi sering bersumber dari informasi umum di internet yang tidak mencerminkan sifat terapi yang sesungguhnya bersifat lokal.

Kekhawatiran masyarakat terhadap radioterapi dinilai kerap melampaui risiko yang sebenarnya. Dokter Spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semanggi, dr. Mirna Primasari, Sp.Onk.Rad, menegaskan bahwa terapi radiasi dirancang secara terukur dan terarah sesuai kondisi masing-masing pasien, sehingga efek sampingnya tidak bisa digeneralisasi seperti yang sering beredar di ruang digital.

Mirna menyampaikan hal itu dalam acara MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa. Ia menjelaskan bahwa radiasi pada dasarnya bekerja dengan menghancurkan sel, namun bila diberikan dalam dosis yang tepat dan diarahkan ke area yang sesuai, tujuannya adalah membunuh sel-sel abnormal tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya secara luas.

Salah satu sumber utama kesalahpahaman, menurut Mirna, adalah informasi yang diperoleh masyarakat melalui mesin pencari, media sosial, maupun teknologi kecerdasan buatan. Deskripsi efek samping yang muncul di platform-platform tersebut cenderung bersifat umum dan tidak mempertimbangkan lokasi spesifik radiasi pada tubuh pasien. Ia menegaskan bahwa informasi semacam itu bukan sepenuhnya salah, tetapi tidak lengkap dan berpotensi menyesatkan.

Untuk memperjelas, Mirna memberi contoh konkret: pasien yang menjalani radioterapi pada area kaki tidak perlu mengkhawatirkan kerontokan rambut, karena efek terapi hanya berdampak pada bagian tubuh yang terpapar radiasi. Sifat lokal inilah yang membedakan radioterapi dari persepsi umum yang menggambarkannya seolah berdampak ke seluruh tubuh.

Mirna juga menekankan pentingnya ketepatan dosis dengan menganalogikannya pada penggunaan obat sehari-hari. Obat pereda nyeri yang dikonsumsi sesuai anjuran akan memberikan manfaat, tetapi jika diminum jauh melebihi dosis yang dianjurkan, justru akan berbahaya. Prinsip yang sama berlaku pada radioterapi — manfaat dan risikonya sangat ditentukan oleh ketepatan dosis dan indikasi medis yang mendasarinya.

Dalam praktik klinis, Mirna menyebutkan bahwa dokter dan tim medis bertanggung jawab menjelaskan secara menyeluruh kepada pasien mengenai hal-hal yang mungkin timbul selama proses terapi, termasuk potensi komplikasi. Pendekatan ini bertujuan agar pasien dapat mengambil keputusan pengobatan secara lebih bijak dan tidak dipengaruhi oleh informasi yang tidak kontekstual.

Mirna mengimbau masyarakat untuk tidak langsung merasa takut ketika mendengar kata radioterapi, melainkan terlebih dahulu berkonsultasi dengan tenaga medis yang kompeten agar pemahaman tentang manfaat dan risiko terapi dapat diukur secara proporsional.

Tag: radioterapi, onkologi, kanker, efek samping, literasi kesehatan