Rambut Rontok Akibat Terapi Kanker: Kenali Pola dan Penyebabnya
2026-09-02 17:15 WIB · aindari

Kerontokan rambut pada pasien kanker umumnya dipicu oleh efek samping pengobatan, bukan kanker itu sendiri, dan tidak semua kerontokan berarti seseorang menderita kanker.
Banyak orang mengasosiasikan rambut rontok dengan kanker, padahal hubungan keduanya lebih tepat dipahami dari sisi pengobatan. Pada pasien kanker, kerontokan rambut atau alopecia lebih sering muncul sebagai efek samping terapi — terutama kemoterapi — ketimbang akibat langsung dari penyakitnya.
Kemoterapi bekerja dengan menyerang sel yang tumbuh dan membelah cepat. Selain sel kanker, obat ini turut memengaruhi sel sehat yang juga memiliki siklus pertumbuhan cepat, termasuk sel folikel rambut. Akibatnya, rambut bisa menipis atau rontok dalam jumlah besar, bahkan saat keramas atau menyisir, sebagaimana dicatat oleh American Cancer Society. Namun, tingkat keparahan kerontokan bergantung pada jenis obat dan dosis yang digunakan — tidak semua kemoterapi menimbulkan efek yang sama.
Kerontokan akibat terapi kanker tidak selalu terbatas pada rambut kepala. Bergantung pada jenis kemoterapi yang dijalani, alis dan bulu mata pun bisa ikut menipis. Pola kerontokan juga bervariasi antarindividu — ada yang mengalami penipisan bertahap, ada pula yang kehilangan rambut secara cepat dan menyeluruh.
Selain kemoterapi, radioterapi juga dapat memicu kerontokan, khususnya di area tubuh yang mendapat paparan radiasi. Jika radiasi diarahkan ke kepala, folikel rambut di area tersebut yang paling terdampak. Efeknya bergantung pada lokasi dan dosis radiasi yang diberikan. Beberapa jenis terapi target pun tidak luput dari efek serupa — rambut bisa menjadi lebih tipis, kering, dan rapuh, bahkan pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kebotakan di area tertentu.
Kabar baiknya, kerontokan akibat terapi kanker umumnya tidak bersifat permanen. Pada banyak pasien, rambut kembali tumbuh setelah pengobatan selesai, meski waktu dan pola pertumbuhannya bisa berbeda dari sebelumnya. Dalam sejumlah kasus, tekstur atau bentuk rambut yang tumbuh kembali pun mengalami perubahan.
Yang perlu ditekankan, rambut rontok bukan penanda spesifik kanker. Kerontokan bisa dipicu banyak kondisi lain, mulai dari faktor genetik, perubahan hormon, kekurangan nutrisi, stres, penyakit tertentu, hingga efek samping obat-obatan. National Cancer Institute menyarankan pasien untuk mendiskusikan potensi efek samping pengobatan bersama tim medis sebelum terapi dimulai.
Meski demikian, kerontokan yang terjadi secara tiba-tiba dalam jumlah besar, disertai kebotakan berbentuk tertentu, perubahan pada kulit kepala, atau berlangsung tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter untuk mengetahui akar masalahnya.
Tag: rambut rontok, kemoterapi, kanker, efek samping pengobatan, alopecia