Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Gubernur Sumbar: Pembangunan Daerah Harus Ukur Kualitas Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

2026-09-03 06:14 WIB · aindari · 👁 672 dibaca

Mahyeldi menegaskan pemerintah daerah punya posisi strategis mencetak pemimpin nasional lewat ekosistem pembinaan SDM yang menyeluruh.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyerukan pergeseran cara pandang dalam mengukur keberhasilan pembangunan daerah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, dan investasi saja tidak cukup — keberhasilan sejati diukur dari kemampuan pemerintah melahirkan manusia yang kompeten, berkarakter, berintegritas, dan adaptif terhadap perubahan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam kuliah umum sekaligus peluncuran buku di Institut SEBI, Depok, Jawa Barat, Kamis.

Mahyeldi menekankan bahwa pemerintah daerah menempati posisi paling strategis dalam pembinaan sumber daya manusia karena kedekatannya langsung dengan masyarakat. Ekosistem pembinaan itu, kata dia, melibatkan banyak pihak sekaligus — mulai dari keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga komunitas desa dan nagari. Kepemimpinan nasional, tegasnya, pada akhirnya tumbuh dari akar daerah.

Ia mengutip data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan angkatan kerja Indonesia pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang. Dari jumlah itu, 148,19 juta orang tercatat bekerja, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,65 persen. Besarnya populasi usia produktif ini, menurut Mahyeldi, harus diperlakukan sebagai peluang yang dikelola serius, bukan sekadar angka statistik.

Untuk menjawab tantangan era kecerdasan artifisial, Mahyeldi menawarkan dua kerangka konseptual. Pertama, konsep 4I — iman, ilmu, integritas, dan inovasi — sebagai fondasi agar teknologi digunakan untuk meningkatkan kapasitas manusia. Kedua, pendekatan pembinaan 5T: temukan potensi, tempa karakter, tingkatkan kompetensi, tumbuhkan jejaring dan ruang berkarya, lalu tugaskan generasi muda memimpin penyelesaian masalah nyata. Ia juga mengingatkan warisan sejarah Sumatera Barat yang melahirkan tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, dan Buya Hamka sebagai pijakan membangun ekosistem kepemimpinan baru.

Pada forum yang sama, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli turut memberikan kuliah umum. Ia menyoroti posisi Indonesia di peringkat ke-55 dari 139 negara dalam indeks inovasi global 2025 dan menyebut penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi berbasis keahlian dan riset sebagai tantangan mendesak. Kepada mahasiswa, Yassierli mendorong pembangunan keterampilan nyata melalui karya, organisasi, proyek, dan pengabdian masyarakat — bukan sekadar gelar akademik.

Soal persaingan dengan AI, Yassierli meminta generasi muda tidak gentar. Menurutnya, ancaman sesungguhnya bukan datang dari mesin, melainkan dari sesama manusia yang lebih mahir memanfaatkan teknologi tersebut. Empati, etika, dan kemampuan membangun hubungan antarmanusia tetap menjadi keunggulan yang tidak bisa digantikan algoritma.

Tag: SDM, Sumatera Barat, kepemimpinan daerah, kecerdasan artifisial, ketenagakerjaan