Metode LEISA dan Drone Angkat Hasil Panen Padi Kaltim Hampir 45 Persen
2026-09-10 17:05 WIB · aindari · 👁 622 dibaca

Uji coba pertanian berkelanjutan berbasis teknologi digital di Kutai Kartanegara berhasil mendorong produktivitas gabah dari 4,8 ton menjadi 6,95 ton per hektare.
Sebuah demplot pertanian di Gapoktan Mandiri, Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, mencatat lonjakan produktivitas padi sebesar 44,8 persen setelah menerapkan pendekatan low external input sustainable agriculture (LEISA) yang dipadukan dengan teknologi digital farming. Hasil panen menunjukkan produksi naik dari 4,8 ton menjadi 6,95 ton per hektare — capaian yang diraih melalui kolaborasi Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim), pemerintah daerah, kalangan akademisi, dan kelompok tani setempat.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kaltim Jajang Hermawan menyebut penerapan teknologi ini memberi manfaat ganda: selain mendongkrak volume produksi, biaya budidaya ikut tertekan dan proses kerja menjadi jauh lebih efisien. Salah satu contoh nyata adalah penggunaan drone sprayer untuk pemupukan dan penyemprotan pestisida. Pekerjaan yang sebelumnya menyita enam hingga delapan jam per hektare kini dapat diselesaikan dalam sekitar sepuluh menit untuk luasan yang sama.
Penerapan LEISA sendiri mencakup seluruh rantai budidaya — dari pembibitan, pemupukan, hingga pengendalian hama — dengan prinsip mengoptimalkan sumber daya lokal agar petani tidak bergantung berlebihan pada input eksternal. Penggunaan pupuk organik menjadi bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Jajang mengakui ketersediaan air masih menjadi tantangan yang perlu diatasi, namun angka produktivitas yang dicapai dinilai cukup menjanjikan untuk direplikasi di wilayah lain di Kalimantan Timur.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyambut positif hasil demplot ini dan mendorong agar model tersebut tidak berhenti sebagai proyek percontohan semata. Ia menargetkan produktivitas minimal tujuh ton per hektare sebagai standar baru, naik dari rata-rata saat ini yang sekitar empat ton per hektare. Menurutnya, replikasi ke sentra-sentra pertanian lain di Kaltim menjadi langkah logis berikutnya.
Seno juga memaparkan gambaran lebih luas soal kapasitas pertanian provinsi. Kaltim saat ini memiliki sekitar 28.000 hektare sawah aktif, dan hingga Agustus 2026 produksi gabah kering panen telah melampaui 200 ribu ton. Pemerintah provinsi menargetkan penambahan sekitar 12.000 hektare sawah baru, sehingga total lahan sawah aktif diproyeksikan mencapai sekitar 40.000 hektare pada 2027. Kombinasi perluasan lahan dan penerapan pertanian presisi ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung target swasembada pangan Kaltim.
Tag: LEISA, pertanian digital, produktivitas padi, Kalimantan Timur, drone pertanian