Padi di Delta Mahakam Tembus 6,95 Ton per Hektare Berkat Metode LEISA dan Teknologi Digital
2026-09-11 06:10 WIB · aindari · 👁 838 dibaca

Penerapan pertanian berkelanjutan dan bio-invigorasi di Kutai Kartanegara mendongkrak produktivitas padi hampir 45 persen meski diterpa El Niño.
Kelompok tani di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mencatat lonjakan produktivitas padi yang signifikan setelah menerapkan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) yang dipadukan dengan pertanian digital. Panen perdana demplot di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri menghasilkan 6,95 ton per hektare, naik 44,8 persen dibandingkan sebelum metode ini diterapkan.
Program ini merupakan kolaborasi antara Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) dan peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Keduanya menggabungkan teknologi pembenihan berbasis bio-invigorasi — yakni penguatan benih menggunakan bahan-bahan alami — dengan prinsip LEISA yang menekankan efisiensi masukan dari luar serta keselarasan dengan kondisi ekosistem setempat.
Inti dari pendekatan ini adalah menjaga kesuburan tanah dengan input yang terukur, mengatur penggunaan air secara efisien, dan memberi ruang bagi tanah untuk tetap produktif tanpa eksploitasi berlebihan. Hasilnya, tanaman padi di kawasan Delta Mahakam tersebut mampu bertahan dan tumbuh subur bahkan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu akibat fenomena El Niño yang membuat musim kemarau meleset dari perkiraan.
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dibangun secara instan. Menurutnya, kelimpahan hasil pertanian lahir dari kesungguhan, konsistensi, serta kemauan para petani untuk terus belajar dan berinovasi. Pernyataan ini sekaligus menggambarkan semangat yang mendasari seluruh program demplot di Sidomulyo.
Pencapaian di Anggana ini melibatkan sinergi berbagai pihak: pemerintah menyiapkan infrastruktur dan regulasi, lembaga penelitian menyumbangkan keahlian teknis, lembaga keuangan memberikan pendampingan, sementara petani sendiri menjadi pelaku utama di lapangan. Model kolaborasi semacam ini dinilai penting untuk memastikan inovasi pertanian tidak berhenti di tataran percobaan, melainkan benar-benar diadopsi dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan petani.
Keberhasilan demplot di Kutai Kartanegara membuka peluang replikasi metode serupa di wilayah lain, terutama daerah yang menghadapi tantangan iklim dan keterbatasan sumber daya. Dengan bukti peningkatan produktivitas yang terukur, LEISA dan pertanian digital kini bukan sekadar konsep, melainkan solusi konkret yang telah teruji di lahan nyata Kalimantan Timur.
Tag: LEISA, ketahanan pangan, Kutai Kartanegara, pertanian digital, Bank Indonesia Kaltim