Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

Kemendikdasmen: Pendekatan STEAM Siapkan Siswa SMK Hadapi Dunia Kerja yang Terus Berubah

2026-09-11 17:12 WIB · aindari · 👁 431 dibaca

Pemerintah mendorong pembelajaran STEAM di SMK sebagai bekal adaptasi siswa menghadapi perubahan keterampilan kerja yang diprediksi makin cepat hingga 2030.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika — atau STEAM — bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). Pendekatan ini dinilai krusial untuk membekali lulusan agar mampu beradaptasi di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung sangat cepat.

Hal itu disampaikan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni, dalam sebuah webinar bertema "STEAM: Dari Imajinasi, Inovasi hingga Prestasi" yang digelar di Jakarta pada Jumat. Ia mengutip proyeksi World Economic Forum (WEF) yang memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan yang dimiliki pekerja saat ini akan kehilangan relevansinya dalam rentang 2025 hingga 2030.

Menurut Maila, pergeseran itu mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap sejumlah kecakapan baru, antara lain literasi kecerdasan buatan (AI), literasi data dan teknologi, kemampuan berpikir kreatif, ketangguhan, serta semangat belajar yang berkelanjutan. WEF juga mencatat bahwa 85 persen perusahaan diperkirakan akan memprioritaskan program peningkatan keterampilan tenaga kerja mereka hingga 2030. Kondisi ini, kata Maila, membuat siswa SMK tidak cukup hanya menguasai kompetensi yang relevan saat ini — mereka juga perlu membangun kemampuan untuk terus belajar seiring perubahan teknologi dan cara kerja.

Maila menekankan bahwa sertifikat kompetensi memang menjadi bekal awal bagi lulusan SMK, namun pembelajaran berbasis STEAM melatih kebiasaan yang lebih dalam: mempelajari alat baru, membaca data, menerima umpan balik, dan memperbaiki hasil kerja. Pendekatan ini juga dinilai selaras dengan kebutuhan industri, mengingat tantangan di dunia kerja nyata tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu. Sektor seperti kendaraan listrik, otomasi, pertanian cerdas, energi terbarukan, perfilman, hingga teknologi Extended Reality (XR) semuanya menuntut penguasaan lintas bidang secara terpadu.

Lebih jauh, Maila menyebut SMK sejatinya sudah memiliki "laboratorium STEAM" dalam wujud nyata — bengkel, dapur, studio, tempat praktik kerja lapangan, hingga teaching factory. Di dapur, misalnya, siswa memadukan pengetahuan bahan, proses memasak, takaran, teknologi, penyajian, hingga kebutuhan pasar. Di bengkel, prinsip sains bertemu dengan teknik, pengukuran, keselamatan, dan desain. Pada bidang tata busana, fungsi bahan, ukuran, estetika, dan kebutuhan konsumen diintegrasikan menjadi sebuah karya.

Dengan fondasi praktik yang sudah ada, Maila menegaskan lulusan SMK memiliki keunggulan tersendiri: mereka tidak sekadar memahami konsep STEAM secara teori, tetapi juga mampu mewujudkannya dalam bentuk karya nyata. Inilah, menurutnya, kekuatan utama yang membedakan lulusan SMK dan menjadikan STEAM bukan sekadar pendekatan belajar, melainkan kemampuan untuk mencipta.

Tag: SMK, STEAM, Kemendikdasmen, dunia kerja, pendidikan vokasi