Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Nasional

Kilang LNG Tangguh Sempat Terancam Karhutla, Kementerian ESDM Pastikan Mitigasi El Niño Berjalan

2026-09-11 17:14 WIB · aindari · 👁 728 dibaca

Kebakaran gambut di sekitar kilang LNG Tangguh di Teluk Bintuni berhasil dikendalikan, namun ancaman El Niño terhadap fasilitas energi nasional belum sepenuhnya reda.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah telah menjalankan langkah-langkah mitigasi untuk melindungi fasilitas energi dari dampak El Niño, termasuk kilang LNG Tangguh yang dikelola BP di Teluk Bintuni, Papua Barat. Pernyataan itu disampaikan Bahlil di Jakarta, Jumat.

Menurut Bahlil, El Niño tidak hanya menekan sektor pertanian, tetapi juga mengancam berbagai sektor lain, termasuk energi. Kilang Tangguh menjadi salah satu fasilitas yang paling mendapat perhatian, setelah api dari kebakaran hutan gambut di sekitarnya sempat mendekati area tangki-tangki penyimpanan. Bahlil menyebut situasi tersebut akhirnya berhasil ditangani.

Di lapangan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya mengerahkan satu helikopter water bombing untuk memperkuat pemadaman karhutla di sekitar Tangguh LNG. Kebakaran di Kabupaten Teluk Bintuni pertama kali terpantau pada 22 Agustus 2026. Hingga 28 Agustus, helikopter tersebut telah melakukan 69 kali penyiraman dengan total sekitar 69 ribu liter air. Dua lokasi yang ditangani dilaporkan tidak lagi menunjukkan kobaran api, meski pemantauan tetap berlanjut karena masih ada asap tipis dan potensi bara di bawah vegetasi.

Pentingnya pengamanan Tangguh LNG tidak lepas dari peran strategisnya dalam produksi energi nasional. Setelah Train 3 beroperasi, kapasitas kilang ini mencapai 11,4 juta ton per tahun, atau sekitar 35 persen dari total produksi LNG Indonesia.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Niño saat ini masih berada pada kategori sangat kuat. Anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 pada dasarian III Agustus 2026 tercatat mencapai positif 2,74 derajat Celsius, dengan rata-rata tiga bulan Juni–Juli–Agustus sebesar positif 2,2 derajat Celsius. BMKG memperkirakan kondisi ini berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Kondisi atmosfer yang relatif kering turut menjaga risiko karhutla tetap tinggi. Per 10 September, sebaran asap masih terpantau di sejumlah wilayah Papua, meliputi Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. BNPB menyatakan akan terus memantau situasi bersama pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait guna mencegah api kembali meluas.

Tag: El Niño, LNG Tangguh, karhutla, ESDM, Papua Barat