Energi Surya dan Angin Gerakkan Pertanian Berkelanjutan di Kalijaran, Cilacap
2026-09-12 06:03 WIB · aindari · 👁 544 dibaca

Pertamina Patra Niaga mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga surya dan bayu ke dalam sistem pertanian terpadu di Kalijaran, Cilacap, untuk mengatasi keterbatasan irigasi sekaligus menekan emisi karbon.
Sebuah program pertanian berbasis energi terbarukan kini berjalan di Kalijaran, Cilacap, Jawa Tengah. PT Pertamina Patra Niaga mengembangkan inisiatif bertajuk "Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan" atau Mapan, yang menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) sebagai tulang punggung sistem irigasi pertanian setempat.
Program ini lahir dari sejumlah persoalan nyata yang dihadapi petani di wilayah tersebut: akses irigasi yang terbatas, minimnya modernisasi pertanian, kurangnya diversifikasi usaha tani, serta ancaman perubahan iklim terhadap produktivitas. Sistem energi hibrida yang dipasang memiliki total kapasitas 15.250 Wp dan mampu mengalirkan rata-rata 150.000 liter air per hari untuk mengairi lahan sawah dan hortikultura.
Dampak lingkungan dari sistem ini juga terukur. Pemanfaatan energi terbarukan tersebut berkontribusi pada pengurangan emisi setara 2.860 kg CO2 per tahun. Di sisi ekonomi, petani menghemat biaya operasional pompa diesel hingga Rp9 juta per dua siklus tanam — penghematan yang cukup berarti bagi petani gurem dan buruh tani harian.
Cakupan program tidak berhenti pada irigasi. Mapan dirancang dengan pendekatan hulu ke hilir: energi yang dihasilkan mendukung produksi padi, pengolahan gabah menjadi beras, pemanfaatan dedak sebagai pakan ternak dan pupuk, pengelolaan limbah pertanian, serta pengembangan hortikultura, perikanan, dan budi daya bebek. Di sisi hilir, masyarakat didorong mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah seperti keripik, telur asin, beras kemasan, dan produk makanan pendamping ASI.
Hingga kini, program Mapan telah menjangkau 233 orang penerima manfaat, mencakup petani gurem, petani perempuan, buruh tani harian, anak-anak dan balita, serta kelompok masyarakat miskin. Sejumlah kelompok terlibat aktif, antara lain Gapoktan Margo Sugih, Kelompok Ternak Mintih Mulia, serta dua kelompok wanita tani, yakni KWT Tandur Makmur dan KWT Mekar Jaya Lestari.
Dari sisi kelembagaan, program ini telah melibatkan delapan pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, dan komunitas masyarakat. Dua kelompok baru telah terbentuk, dan model pertanian hortikultura berbasis energi terbarukan sudah direplikasi di tiga area lahan. VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menyebut Kalijaran diharapkan dapat menjadi percontohan integrasi energi terbarukan dengan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat desa.
Tag: energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, Cilacap, PLTS, ketahanan pangan