Dari Penyambung Lidah ke Penasihat Strategi: Peran Jubir Dibedah dalam Diskusi Peluncuran Buku
2026-09-12 06:12 WIB · aindari · 👁 917 dibaca

Peluncuran buku karya Dirut ANTARA memicu diskusi soal transformasi peran juru bicara yang kini dituntut melampaui fungsi kehumasan biasa.
Sebuah diskusi tentang profesi juru bicara digelar di ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat, Jumat, bersamaan dengan peluncuran buku berjudul 'JURU BICARA Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi'. Buku tersebut ditulis oleh Benny Siga Butarbutar, yang juga menjabat Direktur Utama LKBN ANTARA, bersama Marlinda Irwanti Poernomo — keduanya berlatar belakang praktisi komunikasi massa.
Dalam forum itu, para pembicara sepakat bahwa juru bicara bukan lagi sekadar corong institusi. Gun Gun Heryanto, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pakar komunikasi politik, menegaskan bahwa posisi juru bicara harus ditempatkan di garis terdepan perubahan, bukan sebagai pelengkap. Ia menekankan pentingnya kedekatan antara juru bicara dan pimpinan institusi — tanpa akses tersebut, pesan yang disampaikan ke publik akan kehilangan kedalaman dan kekuatan. Di sisi lain, Gun Gun mengingatkan bahwa juru bicara yang efektif justru harus menahan diri untuk tidak menonjolkan persona pribadi, karena yang perlu ditonjolkan adalah karakter institusi yang diwakilinya.
Perspektif media disampaikan oleh Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Paulus Tri Agung Kristanto. Menurutnya, kerja juru bicara sudah masuk ke ranah etis — berbeda dari penyuluh yang menjelaskan hal teknis maupun humas yang bergerak di tataran umum. Juru bicara, kata Paulus, harus memiliki kedekatan rasa dengan pihak yang diwakilinya, dan di situlah letak tanggung jawab etis yang membedakannya dari profesi komunikasi lainnya.
Dari sisi pemerintah, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menambahkan dimensi empati sebagai bekal wajib seorang juru bicara. Menurutnya, kecepatan dan akurasi informasi saja tidak cukup — juru bicara harus mampu membaca suasana kebatinan masyarakat agar pesan yang disampaikan tidak terasa berjarak. Tanpa empati, komunikasi hanya menjadi pelontaran data yang tidak menyentuh.
Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS), Boy Kelana Soebroto, melengkapi diskusi dengan menyebut bahwa di era digital ini juru bicara idealnya bertransformasi menjadi penasihat strategis organisasi. Ia harus memahami konteks bisnis, kondisi makroekonomi, risiko reputasi, hingga dampak terhadap para pemangku kepentingan — sehingga dapat memberi masukan krusial sebelum sebuah keputusan diambil pimpinan.
Kedua penulis berharap buku ini menjadi bekal bagi siapa pun yang ingin mengambil peran sebagai komunikator, baik di institusi layanan publik maupun sektor swasta. Tujuannya satu: agar juru bicara tidak hanya mampu menjelaskan persoalan, tetapi benar-benar menciptakan dampak nyata lewat pesan-pesan yang disampaikannya kepada masyarakat.
Tag: juru bicara, komunikasi politik, peluncuran buku, ANTARA, kehumasan