Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

China dan Rusia Gagalkan Sanksi PBB terhadap Kapal-Kapal Pengekspor Mineral Korea Utara

2026-09-12 13:31 WIB · aindari · 👁 617 dibaca

Beijing dan Moskow secara resmi menolak usulan AS untuk memasukkan tujuh kapal yang dituduh mengangkut batu bara dan bijih besi Korea Utara ke dalam daftar hitam DK PBB.

Upaya Amerika Serikat memperluas sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara kembali kandas. China dan Rusia secara resmi menyatakan keberatan atas usulan Washington untuk memasukkan tujuh kapal ke dalam daftar hitam, tepat saat usulan itu mencapai batas waktu pertimbangan pada Jumat. Penolakan itu secara efektif menggugurkan seluruh proses, sebagaimana dilaporkan Kyodo mengutip sumber di lingkungan DK PBB.

Ketujuh kapal yang menjadi sasaran usulan AS itu terdaftar di negara ketiga dan dituduh terlibat dalam ekspor batu bara serta bijih besi asal Korea Utara ke China. Sebelum mengajukan usulan tersebut, juru bicara AS menyatakan bahwa penjualan komoditas tersebut menjadi sumber pendanaan program senjata pemusnah massal Pyongyang hingga ratusan juta dolar. Ekspor batu bara dan bijih besi dari Korea Utara sendiri telah dilarang DK PBB melalui resolusi yang dijatuhkan terkait program nuklir dan rudal balistik negara itu.

AS pertama kali mengajukan usulan pemblokiran tujuh kapal tersebut pada Desember 2025. Namun, China dan Rusia langsung menangguhkan permintaan itu tanpa memberikan keputusan, hingga akhirnya menyatakan penolakan resmi ketika tenggat waktu tiba. Seandainya usulan disetujui, kapal-kapal tersebut akan kehilangan status registrasi dan dilarang berlabuh di pelabuhan mana pun di seluruh dunia.

Mekanisme kerja Komite Sanksi DK PBB yang mensyaratkan konsensus di antara 15 anggota menjadi celah yang dimanfaatkan. Keberatan dari satu negara saja sudah cukup untuk menghentikan pembaruan daftar pelanggar sanksi. China dan Rusia, sebagai anggota tetap, secara konsisten menentang penambahan sanksi baru terhadap Pyongyang dan lebih mendorong pendekatan diplomatik melalui pelonggaran tekanan internasional. Pola ini bukan hal baru — pada 2022, kedua negara juga memveto usulan AS untuk memperketat sanksi terhadap Korea Utara.

Selain kasus tujuh kapal yang kini resmi ditolak, terdapat usulan serupa yang diajukan AS pada Juli 2026 untuk mendaftar hitamkan tujuh kapal berbeda atas tuduhan pengangkutan batu bara dan bijih besi Korea Utara. Usulan kedua itu masih dalam tahap pembahasan, tetapi China dan Rusia telah menangguhkannya secara terpisah, sehingga prospek pengesahannya pun tidak menentu menurut sumber yang sama. Pola pemblokiran berulang ini mencerminkan kebuntuan struktural dalam mekanisme sanksi multilateral terhadap Pyongyang.

Tag: Korea Utara, Dewan Keamanan PBB, sanksi, China, Rusia