Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Solidaritas Jurnalis Sultra: Doa Bersama di Hari Kelima Pencarian Lima Pewarta Foto

2026-09-13 06:07 WIB · aindari · 👁 353 dibaca

Ratusan jurnalis Sulawesi Tenggara berkumpul memanjatkan doa untuk lima pewarta foto yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kendari — Memasuki hari kelima pencarian, jurnalis dari seluruh Sulawesi Tenggara menggelar doa bersama sebagai wujud solidaritas terhadap lima pewarta foto yang hingga kini belum ditemukan setelah hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam di Kendari itu turut dihadiri perwakilan berbagai organisasi pers dan kantor berita di daerah tersebut.

Kelima jurnalis yang masih dalam pencarian adalah Muhammad Bagus Khoirunnas dari Antara Foto, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang berstatus jurnalis lepas. Mereka diketahui hilang kontak sejak Senin lalu ketika bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk keperluan peliputan.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari, Nursadah, menyebut doa bersama ini bukan sekadar ritual, melainkan juga bentuk penguatan moral bagi keluarga para jurnalis yang masih menanti kabar dari tim pencarian. Ia menegaskan harapan terbesar adalah kelima rekan tersebut dapat ditemukan dalam kondisi selamat, dan apabila kondisi terburuk terjadi, setidaknya keberadaan mereka dapat diketahui. AJI juga mendorong tim pencari untuk tidak menyerah dalam upaya menemukan para pewarta itu.

Momen ini sekaligus dijadikan refleksi bagi para jurnalis di Sultra mengenai pentingnya mematuhi standar operasional prosedur (SOP) sebelum terjun ke lapangan, khususnya untuk liputan berisiko seperti peliputan bencana alam. Nursadah mengingatkan bahwa keselamatan tidak boleh dikesampingkan demi mengejar berita, seraya mengutip prinsip yang ia sebut sebagai jargon kalangan wartawan: tidak ada berita yang nilainya setara nyawa manusia. AJI pun mendorong perusahaan media dan organisasi profesi untuk menyediakan pelatihan khusus bagi jurnalis yang kerap bertugas di lokasi bencana.

Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sultra, Zabur Karuru, turut memberikan pandangannya dalam kegiatan tersebut. Ia menggambarkan pewarta foto sebagai sosok yang bekerja di garis terdepan peristiwa, mengandalkan ketepatan momen yang tidak bisa diwakilkan siapa pun. Kamera yang mereka bawa, menurut Zabur, berfungsi sebagai mata bagi publik yang tidak dapat hadir langsung di lokasi kejadian — mulai dari kerumunan aksi unjuk rasa hingga kawasan gunung berapi yang aktif.

Zabur mengenal kelima jurnalis itu sebagai sosok yang ulet dan militan di lapangan, dengan rekam jejak karya foto jurnalistik berkualitas. Ia menyebut mereka pergi dengan semangat yang sama seperti pewarta foto pada umumnya: membawa pulang gambar untuk khalayak luas. Dalam kesempatan itu, Zabur mengajak seluruh jurnalis yang hadir untuk menyatukan doa agar tim SAR yang bekerja tanpa henti segera menemukan hasil, dan agar keluarga yang menunggu mendapat kekuatan.

Doa bersama serupa dilaporkan juga digelar di sejumlah kota lain, termasuk Malang dan Bandung, menunjukkan gelombang solidaritas komunitas pers nasional yang meluas seiring berjalannya hari pencarian.

Tag: jurnalis hilang, Gunung Anak Krakatau, Sulawesi Tenggara, pewarta foto, solidaritas pers