Lebih dari 263 Ribu Warga NTB Terdampak Kekeringan, Tiga Kabupaten Masuk Tanggap Darurat
2026-09-13 17:05 WIB · aindari · 👁 624 dibaca

Kekeringan akibat El Niño melanda 227 desa di sembilan kabupaten/kota NTB, dengan Lombok Timur menjadi wilayah terdampak terbesar.
Bencana kekeringan terus meluas di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan status siaga darurat kekeringan setelah sembilan kabupaten/kota terdampak, dan tiga di antaranya — Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, serta Kabupaten Bima — meningkatkan statusnya menjadi tanggap darurat.
Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, bencana ini telah menjangkau 66 kecamatan dan 227 desa/kelurahan, dengan total warga terdampak mencapai 84.837 kepala keluarga atau sekitar 263.310 jiwa. Kepala Pelaksana BPBD NTB Sadimin menyebut kondisi ini diperparah oleh hari tanpa hujan yang terus memanjang di seluruh wilayah provinsi.
Lombok Timur menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak terbesar, yakni hampir 93.000 jiwa yang tersebar di 41 desa. Namun distribusi air bersih di wilayah itu baru mencapai 40 ribu liter — jauh di bawah kebutuhan. Di tiga kabupaten berstatus tanggap darurat, distribusi air tercatat lebih besar: Sumbawa Barat menerima 1,35 juta liter untuk sekitar 5.795 jiwa, Kabupaten Sumbawa mendapat 640 ribu liter untuk lebih dari 42.000 jiwa, dan Kabupaten Bima menerima 320 ribu liter untuk hampir 29.000 jiwa. Secara keseluruhan, BPBD kabupaten/kota bersama BPBD NTB telah mendistribusikan lebih dari 3,38 juta liter air bersih.
Enam kabupaten/kota lainnya berstatus siaga darurat, meliputi Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Barat, Kabupaten Dompu, dan Kota Bima. Sadimin menggambarkan bahwa hampir seluruh Pulau Lombok — kecuali sebagian kecil Lombok Tengah — serta sebagian besar Pulau Sumbawa bagian timur dan barat sudah masuk zona merah dalam peta Rencana Aksi Kekeringan.
Pemicu utama kondisi ini adalah fenomena El Niño yang tahun ini tergolong sangat kuat, dengan indeks mencapai 2,74 derajat Celsius. Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini menjelaskan bahwa El Niño membuat curah hujan di NTB berada jauh di bawah normal, bahkan nyaris nihil. Hujan yang biasanya masih sesekali turun di tengah musim kemarau kini hampir tidak terjadi sama sekali.
Menghadapi situasi ini, Sadimin mengimbau masyarakat untuk menggunakan air bersih secara bijak guna mencegah krisis yang lebih dalam, sembari upaya distribusi air terus diintensifkan oleh pemerintah daerah.
Tag: kekeringan NTB, El Niño, BPBD NTB, tanggap darurat, Lombok Timur