Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

B50 Dinilai Buka Ruang Lebih Luas bagi Hilirisasi Sawit

2026-07-18 06:03 WIB · aindari

Indef menilai program B50 dapat memperkuat prospek sawit Indonesia sebagai bahan baku energi sekaligus produk turunan bernilai tambah.

Program biodiesel B50 dipandang dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas hilirisasi kelapa sawit Indonesia, tidak hanya pada sektor energi. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai komoditas sawit memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Esther menyampaikan penilaian tersebut saat dihubungi di Jakarta, Jumat. Menurut dia, prospek sawit masih sangat kuat karena produk turunannya sangat beragam, dengan jumlah lebih dari 200 jenis. Selain biodiesel, sawit juga dapat masuk ke sektor farmasi, pangan, serta kebutuhan industri lain.

Dalam pandangan Esther, Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Strategi ekspor perlu diarahkan pada diferensiasi produk agar nilai tambah lebih banyak tercipta di dalam negeri. Produk seperti sabun, deterjen, biodiesel, dan pelumas menjadi contoh barang turunan yang dapat diperkuat produksinya.

Namun, pengembangan tersebut membutuhkan ekosistem industri yang lebih kokoh. Esther menekankan pentingnya pembangunan rantai industri, dukungan produksi, dan kesiapan pasar agar produk turunan sawit Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Tanpa ekosistem yang memadai, peluang hilirisasi berisiko belum optimal meski bahan baku tersedia melimpah.

Aspek mutu dan kepatuhan terhadap aturan perdagangan internasional juga menjadi perhatian. Produk turunan sawit yang masuk ke pasar pangan dan kosmetik harus memenuhi ketentuan keamanan serta standar keberlanjutan di negara tujuan. Pemenuhan standar ini penting untuk menjaga akses pasar sekaligus meningkatkan kepercayaan pembeli global.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan penerapan B50 memberi manfaat ekonomi bagi negara dan memperkuat kemandirian energi. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan formula tersebut membuat separuh dari konsumsi solar masyarakat berasal dari hasil bumi yang ditanam dan diproduksi petani lokal.

Kementerian ESDM memproyeksikan implementasi B50 dapat menghemat devisa sekitar Rp170 triliun sepanjang 2026. Program ini juga ditargetkan menciptakan hingga 2,1 juta lapangan kerja baru. Dwi menilai keterlibatan komoditas dalam negeri dalam bahan bakar dapat memperkuat ketahanan energi nasional saat menghadapi gejolak pasar global.

Tag: sawit, B50, hilirisasi, biodiesel, pertanian