Penasihat Khamenei: Selat Hormuz Tetap Tertutup Selama Trump dan Netanyahu Berkuasa
2026-09-18 10:00 WIB · aindari · 👁 617 dibaca

Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan, selama Trump dan Netanyahu masih memegang kekuasaan.
Iran mengeluarkan pernyataan keras terkait nasib Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Mohammad Baqer Zolqadr, penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa pasukan Iran tidak akan membuka kembali selat tersebut selama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih menjabat. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis, 17 September, dan dikutip oleh kantor berita ISNA.
Zolqadr menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai "tahap pertama pembalasan bangsa Iran," sebuah frasa yang menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar respons militer, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Teheran dalam menghadapi tekanan dari Washington dan Tel Aviv.
Ketegangan ini bermula dari serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan menyerang target-target milik kedua pihak tersebut. Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, namun kesepakatan itu tidak bertahan lama dan konflik kembali memanas.
Hingga kini, situasi belum menemukan penyelesaian. Kedua pihak memang tidak sedang terlibat dalam pertempuran terbuka, tetapi Amerika Serikat terus menerapkan tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai instrumen utama dalam konflik yang masih berlangsung ini.
Dampak dari eskalasi tersebut terasa langsung di pasar energi global. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz — yang menjadi jalur vital bagi distribusi minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair — hampir terhenti sepenuhnya. Akibatnya, harga bahan bakar melonjak di sebagian besar negara, memperburuk tekanan ekonomi yang sudah dirasakan banyak pihak.
Selat Hormuz memiliki posisi yang tidak tergantikan dalam rantai pasokan energi dunia. Gangguan berkepanjangan di jalur ini berpotensi memperparah inflasi energi global dan menambah ketidakpastian di pasar komoditas internasional, terutama jika konflik Iran-AS-Israel tidak menemukan jalan keluar diplomatik dalam waktu dekat.
Pernyataan Zolqadr menambah ketegangan di tengah upaya berbagai pihak untuk meredakan krisis. Sebelumnya, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) juga telah menyoroti bahwa krisis Selat Hormuz turut memicu kelangkaan pupuk di tingkat global, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut Washington sedang menjalankan isolasi ekonomi terbesar yang pernah diterapkan terhadap Iran.
Tag: Selat Hormuz, Iran, Donald Trump, Benjamin Netanyahu, energi global