Kelompok Orang Tua ABK di Sawahlunto Rintis Budidaya Madu Galo-Galo untuk Bekali Anak Menuju Kemandirian
2026-09-18 17:04 WIB · aindari · 👁 408 dibaca

Didukung PTBA, kelompok ABK Mandiri Sawahlunto mengembangkan budidaya lebah madu galo-galo sebagai sarana wirausaha sekaligus latihan kemandirian bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Berawal dari kekhawatiran soal masa depan anak-anak berkebutuhan khusus, sekelompok orang tua di Sawahlunto, Sumatera Barat, kini merintis usaha budidaya madu galo-galo sebagai kegiatan produktif yang melibatkan langsung anak-anak mereka. Kelompok yang diberi nama ABK Mandiri Sawahlunto ini berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bekal kemandirian ekonomi bagi para anggotanya.
Kelompok ini bermula dari pertemuan dua hingga tiga orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ingin saling berbagi pengalaman dan dukungan. Seiring waktu, jumlah anggota berkembang hingga mencakup 15 anak. Ketua kelompok, Delvia Syandra, menjelaskan bahwa kekhawatiran terhadap kemampuan ABK dalam mengurus diri secara mandiri mendorong kelompok untuk merambah kegiatan kewirausahaan. Ruang yang semula hanya menjadi ajang silaturahmi pun berkembang menjadi wadah belajar pengasuhan, psikologi, manajemen, hingga kewirausahaan.
Budidaya lebah madu galo-galo dipilih sebagai salah satu kegiatan unggulan. Namun upaya awal yang dilakukan secara mandiri belum membuahkan hasil optimal karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman anggota. Kelompok kemudian mengajukan dukungan kepada PT Bukit Asam (PTBA), yang merespons dengan menyediakan lima stup atau koloni galo-galo beserta pendampingan teknis dari Hery Setiawan, seorang pembudidaya madu galo-galo setempat.
Hery menyebut perawatan lebah galo-galo tergolong mudah dan berisiko rendah, sehingga ABK dapat dilibatkan secara langsung. Teknik perawatan hingga proses panen diajarkan secara berulang dan sabar kepada anggota kelompok. Hasilnya, anak-anak yang semula takut mendekati koloni lebah kini mulai terbiasa dan bahkan antusias mengikuti setiap sesi panen.
Dari sisi bisnis, hasil panen madu langsung diserap oleh Hery, sehingga kelompok memiliki jalur penjualan yang pasti. Panen berlangsung rata-rata setiap dua bulan sekali, dan keuntungan yang terkumpul dibagikan kepada seluruh anggota kelompok setiap tahun. Pola ini memberikan manfaat ekonomi nyata bagi keluarga ABK yang terlibat.
GM PTBA Ombilin Mining Site, Yulfaizon, menyatakan pihaknya mengapresiasi konsistensi kelompok dalam menjalankan kegiatan ini. Berdasarkan hasil evaluasi, dukungan dari PTBA dinilai layak untuk diteruskan, dengan penyesuaian sesuai kebutuhan dan kondisi kelompok. Kegiatan ini sekaligus mencerminkan potensi kolaborasi antara komunitas disabilitas dan sektor swasta dalam menciptakan peluang usaha berbasis potensi lokal.
Tag: ABK, madu galo-galo, kemandirian ekonomi, PTBA, Sawahlunto