Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Peternakan

Gorontalo Utara Kejar Populasi Sapi di Tengah Tingginya Permintaan Pasar

2026-08-24 17:06 WIB · aindari · 👁 439 dibaca

Dinas Peternakan Gorontalo Utara gencarkan edukasi peternak untuk mendongkrak populasi sapi yang kini mencapai 20.846 ekor, seiring meningkatnya permintaan dari Pasar Nusantara.

Kabupaten Gorontalo Utara mencatat populasi sapi sebanyak 20.846 ekor yang tersebar di 11 kecamatan. Angka itu dinilai belum sebanding dengan potensi lahan dan ketersediaan pakan yang dimiliki daerah tersebut, sehingga pemerintah kabupaten melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan terus mendorong peningkatan populasi lewat program edukasi bagi para peternak.

Medik Veteriner Ahli Muda Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gorontalo Utara, drh Yeni Retno Wati, menyebut distribusi populasi sapi tersebar tidak merata antarwilayah. Kecamatan Kwandang menjadi yang terbesar dengan 5.365 ekor, disusul Kecamatan Anggrek 4.718 ekor, dan Kecamatan Tomilito 2.068 ekor. Sementara kecamatan lain seperti Ponelo Kepulauan hanya mencatat 256 ekor dan Sumalata Timur 356 ekor.

Permintaan sapi potong dari Pasar Nusantara yang terus tinggi menjadi salah satu pendorong upaya pengembangan ini. Pemerintah daerah juga menggulirkan program satu orang satu ekor sapi sebagai target jangka panjang. Dengan sistem kandang yang menjaga bobot ternak, nilai jual seekor sapi berpotensi mencapai minimal Rp30 juta per ekor.

Di tengah musim kemarau yang sedang berlangsung, Yeni menegaskan bahwa menjaga kualitas hidup ternak menjadi prioritas utama. Kecukupan pakan dan air minum harus dipastikan agar sapi tetap dalam kondisi prima, tidak mudah terserang penyakit, dan terlindung dari paparan sinar matahari berlebih yang dapat mengganggu kesehatan.

Salah satu ancaman yang diwaspadai saat musim kemarau adalah keracunan daun ketumbar, yang dalam bahasa lokal dikenal dengan istilah panas dalam atau penyakit bali zidkte. Sapi yang memakan daun tersebut dalam jumlah banyak berisiko mengalami pengelupasan kulit akibat paparan sinar matahari. Yeni mengungkapkan bahwa laporan kasus semacam ini cukup sering diterima pihaknya dari para peternak.

Sebagai penanganan, petugas memberikan suntikan antibiotik dan antialergi pada sapi yang terdampak, sekaligus mengedukasi peternak agar mampu mengenali daun ketumbar dan mencegah sapi mengonsumsinya saat digembalakan. Penanganan yang cepat disebut menjadi kunci keselamatan ternak; jika terlambat, kondisi tersebut dapat mengancam jiwa hewan.

Dinas Peternakan Gorontalo Utara menyatakan akan terus melakukan pendampingan dan penyuluhan kepada peternak secara berkelanjutan, termasuk di tengah tekanan musim kemarau, demi memastikan usaha peternakan sapi di wilayah itu tetap berkembang dan produktif.

Tag: peternakan sapi, Gorontalo Utara, edukasi peternak, musim kemarau, populasi ternak