Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Karhutla Kalimantan Selatan Ancam Kelangsungan Hidup Bekantan, 12 Ekor Dilaporkan Mati

2026-09-19 17:04 WIB · aindari · 👁 325 dibaca

Kebakaran hutan dan lahan di Kalsel tidak hanya merenggut nyawa bekantan secara langsung, tetapi juga merusak habitat yang pemulihannya membutuhkan waktu panjang.

Dua belas ekor bekantan dilaporkan mati akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Laporan tersebut diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, dan menjadi pengingat betapa rentannya primata endemik ini terhadap ancaman kebakaran yang terus berulang.

Menurut pendiri Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus akademisi Biologi Konservasi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, bekantan sangat bergantung pada vegetasi di tepian sungai dan kawasan lahan basah. Ketika kawasan itu terbakar, satwa ini kehilangan sumber pakan, tempat berlindung, dan jalur perpindahan sekaligus. Asap yang dihasilkan karhutla pun berpotensi mengganggu sistem pernapasan bekantan, meski tingkat dampaknya di lokasi tertentu masih perlu dibuktikan melalui pemantauan lapangan.

Amalia menjelaskan bahwa karhutla dapat mengubah perilaku bekantan secara signifikan — mulai dari pola makan, waktu istirahat, hingga pergerakan kelompok. Dalam situasi tertentu, kelompok bekantan terpaksa berpindah mencari habitat baru. Perpindahan ini justru membawa risiko tersendiri, karena mereka bisa masuk ke kawasan dengan kualitas habitat yang lebih buruk atau bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia.

Yang menjadi perhatian serius adalah dampak karhutla tidak berakhir begitu api padam. Vegetasi yang terbakar memerlukan waktu untuk tumbuh kembali, sementara kebutuhan bekantan akan pakan dan tempat berlindung bersifat harian. Amalia menegaskan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan api semata, melainkan juga dari sejauh mana habitat yang tersisa masih mampu menopang kehidupan bekantan setelah bencana berlalu.

Sebagai contoh upaya pemantauan berkelanjutan, Amalia menyebut Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak yang terus dipantau kondisi vegetasi, ketersediaan pakan alami, dan perubahan lingkungannya. Ia menekankan bahwa penetapan suatu lokasi sebagai terdampak — baik langsung maupun tidak langsung — harus didasarkan pada data dan hasil pemantauan lapangan yang sahih.

Berdasarkan catatan BKSDA Kalsel, populasi bekantan di provinsi ini pada 2025 diperkirakan sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiga berada di kawasan konservasi, sedangkan dua pertiga lainnya hidup di luar kawasan konservasi seperti hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain (APL). Ke-12 bekantan yang mati di Balimau itu pun berada di kawasan APL yang merupakan tanah milik desa. BKSDA Kalsel menyatakan komitmennya untuk terus melakukan pendataan kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar.

Amalia mengingatkan bahwa menjaga habitat bekantan pada dasarnya juga berarti menjaga ekosistem lahan basah secara keseluruhan — ekosistem yang manfaatnya jauh melampaui kepentingan satu spesies. Ketika vegetasi dan kondisi hidrologi kawasan tersebut terjaga, masyarakat yang bergantung pada ekosistem itu pun turut terlindungi.

Tag: bekantan, karhutla, Kalimantan Selatan, konservasi satwa, BKSDA