Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Di Antara Gempuran, Petani Gaza Nekat Garap Sisa Lahan yang Tersisa

2026-09-19 17:10 WIB · aindari · 👁 779 dibaca

Hanya 3 persen lahan pertanian Gaza yang masih bisa digarap, namun sejumlah petani memilih bertahan demi menyelamatkan mata pencaharian mereka.

Perang yang berkecamuk di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah meluluhkan sektor pertanian wilayah itu hingga ke titik kritis. Data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang dirilis Agustus lalu menunjukkan hanya sekitar 448 hektare — atau sekitar 3 persen dari total lahan pertanian Gaza — yang masih bisa diakses dan kondisinya tidak rusak. Otoritas pertanian Gaza memperkirakan total kerugian sektor ini mencapai sekitar 3,49 miliar dolar AS.

Di dekat "Garis Kuning", garis demarkasi militer yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, Mohammed Al-Dahdouh (55) masih setia membungkuk di atas ladang kentangnya. Lahan yang kini tersisa hanya tujuh dunam atau sekitar 0,7 hektare — jauh menyusut dari lebih dari 40 dunam yang pernah digarapnya. Setiap kali artileri berdentum, ayah enam anak itu menyingkir menyelamatkan diri. Begitu suasana mereda, ia kembali ke ladang. Kini ia bersiap menanam tomat untuk musim berikutnya, bertekad menghidupi keluarganya dari tanah yang tersisa.

Nasib serupa dialami Ibrahim Abu Samhadana (42) di Beit Lahia, Gaza utara. Ia menanam stroberi, zukini, dan terong di atas lahan yang masih bisa digarap, sementara tinggal di dalam tenda di samping reruntuhan rumahnya sendiri. Lahan keluarganya seluas 22 dunam telah musnah. Meski begitu, ia tidak berhenti bertani. Baginya, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas yang sudah melekat sejak kecil.

Di Gaza selatan, dampak perang terlihat jelas pada kebun jambu biji di Khan Younis. Lahan milik Hani Al-Qudra yang sebelum perang mencapai sekitar 1.350 dunam kini tinggal sekitar 200 dunam, sementara jumlah pekerjanya anjlok dari sekitar 100 orang menjadi 15 orang. Spesialis pertanian Mohammed Abu Shamala mencatat, luas budi daya jambu biji di seluruh Gaza telah menyusut dari sekitar 1.700 dunam sebelum perang menjadi kurang dari 100 dunam. Kerusakan sistem irigasi dan meningkatnya kadar garam pada air juga menurunkan kualitas hasil panen serta membatasi jenis varietas yang bisa ditanam.

Dampaknya merambat hingga ke pasar. Ahmed Al-Najjar (45), seorang warga Khan Younis dan ayah tiga anak, mengungkapkan bahwa jambu biji — buah musiman yang dulu harganya terjangkau — kini sudah di luar jangkauan banyak keluarga. Ia mengaku sedih ketika anak-anaknya meminta buah itu namun ia tidak mampu membelinya.

Sebelum perang, sektor pertanian menyumbang sekitar 10 persen dari perekonomian Gaza dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 560.000 orang. Kini, dengan pasokan air, listrik, bahan bakar, dan sarana pertanian yang langka atau harganya melonjak, para petani yang masih bertahan harus berjuang dua kali lipat: melawan kondisi perang sekaligus mempertahankan sisa-sisa sektor yang menopang kehidupan jutaan warga Gaza.

Tag: Gaza, pertanian, perang, ketahanan pangan, FAO