BI Dorong Kopi Jawa Timur Naik Kelas Lewat JCFF 2026
2026-07-18 17:02 WIB · aindari · 👁 659 dibaca
Bank Indonesia memanfaatkan JCFF 2026 di Surabaya untuk memperluas pasar kopi lokal dan memperkuat daya saing Indonesia di rantai kopi dunia.
Bank Indonesia menempatkan Java Coffee, Flavors and Festival atau JCFF 2026 sebagai salah satu sarana untuk memperbesar peran kopi Indonesia di pasar dunia. Kegiatan tahunan yang digelar di Alun-Alun Kota Surabaya, Jawa Timur, pada 17-19 Juli 2026 itu diarahkan untuk membuka akses pasar lebih luas bagi pelaku usaha kopi, terutama dari kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal menyampaikan bahwa Indonesia berada di jajaran empat besar produsen kopi dunia. Negara lain yang masuk kelompok produsen utama tersebut adalah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Dengan posisi itu, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk memperkuat perdagangan kopi, termasuk melalui perluasan ekspor.
Dari sisi produksi, Indonesia menghasilkan sekitar 780 ribu ton kopi per tahun. Jawa Timur menjadi salah satu wilayah penting, khususnya di Pulau Jawa, dengan produksi sekitar 53 ribu ton per tahun. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Barat yang masing-masing berada di kisaran 25 ribu ton. Besarnya produksi tersebut menjadi dasar bagi BI untuk mendorong pengembangan pasar dan peningkatan nilai ekonomi komoditas kopi daerah.
Rifki menilai penguatan kopi tidak hanya berkaitan dengan volume produksi, tetapi juga dengan pelaku usaha yang menopang rantai pasoknya. Banyak produsen kopi Indonesia berasal dari UMKM. Karena itu, ketika pasar mereka diperluas, dampaknya berpotensi menjalar ke kegiatan ekonomi lain, mulai dari pengolahan, pemasaran, hingga produk turunan dan sektor pendukung.
Dalam JCFF 2026, BI menyiapkan agenda yang berfokus pada penguatan kapasitas dan pertemuan bisnis. Program business coaching ditujukan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kesiapan usahanya, sedangkan business matching mempertemukan UMKM dengan calon pembeli. Pembeli yang dibidik tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari pasar global.
BI menargetkan capaian penyelenggaraan tahun ini dapat melampaui hasil festival sebelumnya. Pada pelaksanaan tahun lalu, JCFF mencatat sekitar 130 ribu pengunjung dalam tiga hari dan membukukan transaksi Rp107 miliar. Optimisme tersebut didukung oleh keterlibatan lebih dari 60 tenant UMKM pada 2026, termasuk 41 UMKM kopi binaan BI.
Selain kopi, festival ini juga menghadirkan produk lain seperti cokelat, teh, herbal, dan rempah. Kehadiran komoditas pendamping tersebut memperluas karakter JCFF sebagai ajang promosi produk pangan dan minuman lokal. Bagi sektor pertanian, kegiatan semacam ini menjadi peluang untuk menghubungkan produksi daerah dengan pasar yang lebih besar, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan komoditas bernilai ekspor.
Tag: kopi, Bank Indonesia, JCFF 2026, UMKM, Jawa Timur