Hashim: MBG Ditujukan untuk Memperkuat Pendidikan dan Produktivitas Nasional
2026-10-14 06:05 WIB · aindari · 👁 802 dibaca

Hashim Djojohadikusumo menyebut Program Makan Bergizi Gratis sebagai kebijakan jangka panjang untuk memperbaiki gizi, hasil belajar, dan kualitas tenaga kerja Indonesia.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipaparkan sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Board of Advisors Prasasti Hashim Djojohadikusumo menyampaikan hal itu saat berbicara di Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa, di hadapan James A. Robinson, penerima Nobel Ekonomi 2024.
Menurut Hashim, pemenuhan gizi anak berkaitan erat dengan kemampuan mereka mengikuti pelajaran. Anak yang tidak memperoleh asupan nutrisi memadai berisiko mengalami gangguan konsentrasi, sehingga proses pendidikan dan pembentukan kualitas sumber daya manusia turut terdampak. Dalam jangka panjang, persoalan tersebut dapat berpengaruh terhadap produktivitas ketika mereka memasuki dunia kerja.
Hashim mengatakan gagasan mengenai MBG telah muncul sejak 2006. Saat itu, Presiden Prabowo Subianto disebut mencemaskan kondisi gizi dan pendidikan anak-anak di Indonesia. Ia juga menyebut tingkat tengkes atau stunting ketika itu berada di kisaran 30 persen.
Ia menekankan bahwa masalah gizi tidak semata-mata berarti anak tidak memperoleh makanan. Kualitas nutrisi dalam makanan juga menjadi persoalan. Berdasarkan kajian pemerintahan sebelumnya yang disampaikan Hashim, sekitar 41 persen anak sekolah di Indonesia berangkat tanpa sarapan. Kondisi itu dinilai dapat menyulitkan mereka berkonsentrasi selama mengikuti pelajaran yang berlangsung tiga hingga lima jam.
Bagi Hashim, perbaikan gizi penting agar Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi secara optimal. Anak-anak yang tumbuh dengan kebutuhan nutrisi lebih baik diharapkan memiliki kemampuan belajar dan produktivitas yang lebih tinggi, serta kelak dapat memberi kontribusi lebih besar bagi perekonomian.
Dalam forum tersebut, ia turut membandingkan capaian pendidikan Indonesia dan Korea Selatan menggunakan hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Korea Selatan disebut konsisten berada di kelompok teratas bersama sejumlah negara seperti Selandia Baru, Singapura, dan Finlandia. Sementara itu, Indonesia disebut berada di posisi ke-62 dari 70 negara dalam hasil yang dirujuk Hashim, atau termasuk kelompok terbawah.
Hashim menilai MBG bukan kebijakan yang hanya menyediakan makanan bagi anak. Sejumlah negara telah lebih dahulu menjalankan kebijakan sejenis, sedangkan Indonesia dinilai terlambat menerapkannya. Karena itu, program tersebut ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk mengejar peningkatan mutu pendidikan, memperkuat kualitas tenaga kerja, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Tag: Program Makan Bergizi Gratis, Hashim Djojohadikusumo, pendidikan, sumber daya manusia, bonus demografi