Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

BI Perkuat Intervensi Saat Rupiah Tertekan hingga Rp18.000 per Dolar AS

2026-10-16 10:30 WIB · aindari · 👁 434 dibaca

Bank Indonesia mempertahankan kehadirannya di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas rupiah ketika sentimen global mendorong penguatan dolar AS.

Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus melakukan intervensi di pasar keuangan setelah rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat. Tekanan tersebut berlangsung ketika investor global cenderung menghindari aset berisiko atau berada dalam kondisi risk-off, sehingga dolar Amerika Serikat menguat dan pasar keuangan domestik ikut tertekan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan langkah otoritas moneter ditujukan untuk menjaga pergerakan nilai tukar tetap sesuai fundamental. BI juga memastikan mekanisme pasar tetap berfungsi dengan baik di tengah meningkatnya tekanan terhadap rupiah.

Intervensi dilakukan melalui sejumlah instrumen. Di pasar offshore, BI bertransaksi menggunakan Non-Deliverable Forward (NDF). Di dalam negeri, otoritas menggunakan transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI turut menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang.

Erwin memperkirakan arus keluar dana dari aset portofolio domestik masih dapat berlanjut. Kondisi itu berkaitan dengan memburuknya sentimen global yang meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Meski demikian, ia menyebut pergerakan rupiah secara umum masih searah dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date, pelemahan rupiah tercatat terbatas sebesar 0,28 persen.

Pada pembukaan perdagangan Jumat, rupiah melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.938. BI juga mencatat cadangan devisa tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

Tekanan di pasar domestik turut muncul dari gejolak bursa saham setelah pengumuman MSCI. Pada Kamis, 15 Oktober, MSCI menyampaikan rencana konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan final dijadwalkan paling lambat pada akhir Juni 2027, sementara pembaruan sementara dapat disampaikan selama proses konsultasi.

Menanggapi perkembangan tersebut, IHSG pada Jumat pagi turun 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92 dan mengalami trading halt. Indeks LQ45 juga merosot 49,14 poin atau 8,33 persen menjadi 540,95. BI menyatakan terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lain untuk mengelola kondisi pasar.

Tag: Rupiah, Bank Indonesia, Nilai tukar, Pasar keuangan, MSCI