Bio Farma Perkuat Ekspor Vaksin dan Teknologi Kesehatan Nasional
2026-10-16 17:06 WIB · aindari · 👁 658 dibaca
Bio Farma mencatat ekspor kumulatif lebih dari Rp10 triliun pada 2021–2025 dan memperluas jangkauan produk vaksinnya ke lebih dari 150 negara.
Bio Farma meraih penghargaan Primaniyarta ke-12 dalam kategori Eksportir Pemanfaat Free Trade Agreement (FTA). Penghargaan ini menegaskan peran perusahaan dalam meningkatkan ekspor produk kesehatan sekaligus memperluas akses ke pasar internasional melalui pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas.
Kontribusi Bio Farma terhadap ekspor Indonesia tercermin dari nilai ekspor kumulatif yang melampaui Rp10 triliun selama periode 2021–2025. Produk vaksinnya telah digunakan di lebih dari 150 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Distribusi tersebut berlangsung melalui pengadaan institusional dan kemitraan bilateral, yang menunjukkan tingkat kepercayaan dari organisasi internasional, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan kesehatan.
Sejak memasuki pasar global pada 1997, Bio Farma telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin. Perusahaan memiliki kapasitas produksi 3,1 miliar dosis per tahun dan 20 produk yang telah memperoleh prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Portofolionya meliputi vaksin bakterial dan viral, seperti polio dan campak, serta bahan aktif vaksin untuk mendukung pencegahan penyakit di sejumlah negara.
Direktur Komersial Bio Farma Fitri Puspadewi menyatakan penghargaan tersebut mendorong perusahaan untuk meningkatkan daya saing produk kesehatan Indonesia. Menurut dia, optimalisasi FTA akan digunakan untuk membuka peluang pasar, memperkuat kemitraan strategis, dan menambah kontribusi ekspor. Pengembangan pasar juga diarahkan melalui inovasi, peningkatan mutu, serta kerja sama lintas negara agar pertumbuhan ekspor berlangsung berkelanjutan.
Di dalam negeri, Bio Farma memperkuat penguasaan teknologi melalui pengembangan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat yang mencakup kerja sama riset, transfer teknologi, uji klinis, dan evaluasi regulator hingga mendapat persetujuan pemasaran dari BPOM. Perusahaan juga mengembangkan Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi dengan Murdoch Children’s Research Institute. Produk tersebut memperoleh Nomor Izin Edar BPOM pada 2 September 2026, setelah melalui penelitian, uji praklinis dan klinis, alih teknologi, serta penyiapan manufaktur di Indonesia.
Pengembangan kedua vaksin itu ditujukan untuk memperkuat ketersediaan dan keberlanjutan pasokan, memperluas akses, serta menyediakan produk berkualitas dengan harga kompetitif. Bio-RV juga diharapkan membantu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Penerimaan masyarakat didukung melalui kerja sama dengan organisasi profesi kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, dan edukasi berbasis bukti ilmiah.
Dalam penyelenggaraan Trade Expo Indonesia ke-41, Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan transaksi perdagangan sebesar 17,5 miliar dolar AS, naik dari target tahun sebelumnya sebesar 16,5 miliar dolar AS. Sebagai BUMN life science dalam ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma melanjutkan penguatan tata kelola, kapasitas, inovasi, serta kolaborasi dari riset hingga layanan kesehatan untuk mendukung daya saing global dan ketahanan kesehatan nasional.
Tag: Bio Farma, ekspor vaksin, Primaniyarta, FTA, industri kesehatan