Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

IHSG Anjlok 11,57 Persen Setelah MSCI Buka Evaluasi Status Pasar Indonesia

2026-10-16 17:08 WIB · aindari · 👁 916 dibaca

Pasar saham Indonesia tertekan oleh rencana konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi dari emerging market menjadi standalone market.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berakhir di level 5.185,11 pada Jumat, turun 678,67 poin atau 11,57 persen. Penurunan tajam ini terjadi setelah MSCI membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai kemungkinan perubahan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Tekanan tersebut berlangsung sepanjang perdagangan setelah indeks sempat merosot lebih dari 8 persen pada awal sesi dan memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai sentimen MSCI membuat pasar keuangan Indonesia berada dalam tekanan. Kekhawatiran yang menjadi perhatian investor global mencakup transparansi kepemilikan saham serta dugaan adanya praktik perdagangan yang terkoordinasi. Pelaku pasar juga menilai perbaikan di pasar ekuitas Indonesia belum berlangsung secara konsisten, termasuk dalam aspek penegakan aturan.

Jika perubahan klasifikasi itu diterapkan, Indonesia berpotensi dikeluarkan dari indeks utama MSCI karena dianggap menghadapi hambatan besar bagi investor asing. MSCI masih menerima masukan mengenai rencana reklasifikasi tersebut hingga 30 April 2027. Keputusan terkait status pasar Indonesia dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Perkembangan proses ini berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset Indonesia, meski keputusan final belum ditetapkan.

Berbeda dari IHSG, indeks LQ45 yang mencerminkan kinerja 45 saham unggulan naik 81,53 poin atau 13,82 persen menjadi 508,56. Namun, tekanan meluas pada seluruh 11 indeks sektoral IDX-IC. Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 13,26 persen, disusul sektor infrastruktur yang turun 12,87 persen dan kesehatan yang melemah 12,84 persen. Hanya 11 saham yang menguat, sementara 812 saham turun dan 140 saham tidak berubah.

Perdagangan mencatat 2,11 juta transaksi dengan volume 66,78 miliar saham dan nilai Rp31,73 triliun. Saham yang mencatat kenaikan terbesar antara lain BSWD, ABDA, TRUK, CBPE, dan PTSP. Sebaliknya, APIC, BBKP, BELI, BFIN, serta BHIT termasuk saham dengan penurunan terbesar. IHSG tetap berada di zona merah hingga akhir sesi pertama dan kembali melemah sepanjang sesi kedua.

Tekanan di dalam negeri terjadi ketika bursa Asia justru menguat. Nikkei naik 1,66 persen, Hang Seng 0,52 persen, Shanghai 0,24 persen, Kospi 2,05 persen, dan Strait Times 0,23 persen. Sentimen regional didukung meredanya aksi jual saham teknologi di Wall Street serta penurunan imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun, meski tingkatnya masih tinggi dan berada di bawah 5,1 persen. Investor juga menimbang data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan, prospek kebijakan The Fed, harga minyak yang tinggi, serta risiko inflasi dan kenaikan suku bunga. Sekitar 72 persen pelaku pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada Oktober 2026, sementara data ekonomi China, termasuk pertumbuhan PDB, dinantikan pada pekan berikutnya.

Tag: IHSG, MSCI, Bursa Efek Indonesia, Pasar Modal, The Fed