Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

ITB Uraikan Pengendalian Risiko pada Pengeboran Panas Bumi

2026-10-21 06:09 WIB · aindari · 👁 789 dibaca

Pengeboran panas bumi dinilai dapat dilakukan dengan aman melalui pemahaman geologi, konstruksi sumur, pengelolaan reservoir, serta pemantauan tekanan dan kegempaan.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Lambok Hutasoit menjelaskan langkah pengamanan dalam pengeboran panas bumi untuk menjawab kekhawatiran mengenai gempa, gangguan air tanah, dan semburan fluida. Penjelasan itu disampaikan di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Selasa, 20 Oktober. Ia menilai pemahaman terhadap proses pengeboran dan kondisi geologi bawah permukaan penting agar masyarakat tidak mudah menerima informasi yang keliru.

Menurut Lambok, pengeboran pada dasarnya merupakan pembuatan lubang melalui lapisan batuan untuk mencapai reservoir yang menyimpan energi panas bumi. Aktivitas membuat lubang itu tidak secara langsung menjadi penyebab gempa. Namun, dalam pengembangan panas bumi, perubahan tekanan fluida di reservoir, termasuk yang berkaitan dengan produksi dan injeksi, dapat berhubungan dengan risiko gempa terinduksi. Oleh karena itu, pengelolaan reservoir dan pengamatan aktivitas kegempaan diperlukan sebagai bagian dari pengendalian risiko.

Kekhawatiran lain berkaitan dengan kemungkinan tercemarnya atau terganggunya air tanah yang digunakan masyarakat. Lambok menjelaskan, akuifer biasanya berada pada kedalaman yang berbeda dari reservoir panas bumi. Lapisan penudung dengan permeabilitas rendah juga dapat menghambat hubungan hidrologis antara reservoir dan akuifer di atasnya. Perlindungan tambahan dilakukan melalui desain sumur, termasuk penggunaan pipa pelindung dan penyemenan untuk memisahkan lapisan batuan yang ditembus selama pengeboran.

Kedalaman sumur panas bumi sekitar 2.000 meter disebut masih lazim untuk mencapai reservoir dan tergolong relatif dangkal jika dibandingkan dengan ketebalan kerak bumi. Selama proses berlangsung, tekanan fluida dipantau menggunakan blowout preventer. Perangkat tersebut berfungsi membantu mengendalikan tekanan dan mencegah keluarnya fluida dari sumur secara tidak terkendali. Keamanan juga bergantung pada pemahaman kondisi geologi setempat dan kepatuhan terhadap prosedur operasional.

Kamojang menjadi salah satu tonggak pengembangan panas bumi di Indonesia. Pertamina mulai mengeksplorasi kawasan itu pada 1974, sementara pembangkit panas bumi pertamanya mulai beroperasi secara komersial pada 1983. Data PT Pertamina Geothermal Energy Tbk mencatat Area Kamojang kini memiliki lima unit PLTP dengan kapasitas terpasang gabungan 235 megawatt. Fasilitas tersebut menggunakan uap panas bumi untuk menghasilkan listrik.

Pengoperasian Kamojang selama lebih dari 40 tahun menjadi konteks penting dalam pembahasan mengenai teknologi pengeboran, pengelolaan reservoir, dan mitigasi risiko lingkungan. Lambok menekankan bahwa penjelasan berbasis ilmu pengetahuan diperlukan agar masyarakat memahami manfaat pengembangan energi panas bumi sekaligus mekanisme yang digunakan untuk mengendalikan potensi risikonya.

Tag: panas bumi, gempa terinduksi, air tanah, PLTP Kamojang, energi terbarukan