Iran Klaim Serang Fasilitas Militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain
2026-07-18 19:01 WIB · aindari · 👁 941 dibaca

IRGC menyatakan serangan rudal dan drone terbaru menargetkan aset militer Amerika Serikat di sejumlah lokasi Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengklaim telah menghancurkan sedikitnya dua jet tempur Amerika Serikat dalam serangan terbaru terhadap Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania pada Sabtu pagi. Klaim itu disampaikan melalui pernyataan yang disiarkan IRIB dan menjadi bagian dari rangkaian Operasi Nasr 2.
Menurut IRGC, serangan tersebut dilakukan oleh pasukan udaranya dengan menggunakan rudal dan drone. Sasaran yang disebutkan meliputi hangar jet tempur serta area parkir pesawat di pangkalan udara itu. Selain dua jet tempur, IRGC juga menyatakan tiga pesawat AS lainnya ikut hancur dalam serangan tersebut.
Iran menyebut aksi itu sebagai balasan atas tindakan Amerika Serikat pada malam sebelumnya. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut serangan ke Al Azraq sebagai gelombang ke-20 Operasi Nasr 2. Belum ada keterangan pembanding dalam materi sumber mengenai kerusakan atau korban dari pihak Amerika Serikat maupun otoritas Yordania.
IRGC juga mengumumkan serangan lain yang disebut sebagai gelombang ke-19 Operasi Nasr 2. Dalam bagian operasi itu, drone dan rudal diklaim menghantam dermaga pendukung pengisian bahan bakar Angkatan Laut AS di Pelabuhan Al Ahmadi, Kuwait. Fasilitas tersebut disebut digunakan untuk mendukung kebutuhan bahan bakar militer AS.
Selain Yordania dan Kuwait, Iran menyatakan serangan juga diarahkan ke titik pengerahan pesawat tempur di Pangkalan Udara Sheikh Isa, Bahrain. IRGC kembali menggambarkan serangan itu sebagai respons terhadap agresi yang terjadi sebelumnya. Rangkaian klaim ini menunjukkan perluasan sasaran Iran terhadap fasilitas yang dikaitkan dengan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak 8 Juli, ketika pasukan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut operasi itu sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melewati Selat Hormuz. Setelah itu, Iran melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah.
Pada 9 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran tidak lagi berlaku. Pernyataan itu mempertegas memburuknya situasi setelah saling serang antara kedua pihak. Informasi mengenai klaim Iran ini bersumber dari Sputnik yang dikutip dalam laporan ANTARA.
Tag: Iran, Amerika Serikat, Timur Tengah, IRGC, Operasi Nasr 2