Republikorp Nilai Badr Initiative Bisa Perkuat Industri Pertahanan Indonesia
2026-10-24 17:01 WIB · aindari · 👁 595 dibaca
Kerja sama Indonesia, Qatar, Türkiye, dan Pakistan dinilai membuka ruang bagi transfer teknologi, produksi bersama, serta peningkatan kapasitas industri pertahanan nasional.
Chairman Republikorp Norman Joesoef menilai keterlibatan Indonesia dalam Badr Initiative dapat memperkuat sektor pertahanan nasional. Nota kesepahaman yang melibatkan Indonesia, Qatar, Türkiye, dan Pakistan itu memberi peluang bagi peningkatan teknologi alat utama sistem persenjataan, kemampuan tenaga ahli, serta mutu produksi industri pertahanan dalam negeri.
Menurut Norman, kerja sama tersebut tidak berhenti pada pembelian produk militer. Kerangka kolaborasi mencakup pembuatan bersama, penelitian dan pengembangan, pertukaran teknologi, serta pelatihan teknis. Rangkaian kegiatan itu diharapkan membentuk rantai pasok pertahanan yang lebih kuat dan meningkatkan kemampuan industri nasional dalam memenuhi kebutuhan strategis negara.
Ia menyebut kapasitas keempat negara bisa saling mengisi. Qatar dan mitra lain memiliki peluang berkontribusi melalui pembiayaan serta investasi, sementara kemampuan teknologi, rekayasa, manufaktur, dan sumber daya manusia dapat digabungkan dalam proyek bersama. Pemanfaatan keunggulan tersebut akan diarahkan sesuai kebutuhan dan prioritas nasional masing-masing peserta.
Norman, yang turut hadir dalam penandatanganan kesepakatan, menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan dalam menerjemahkan kesepakatan antarnegara menjadi program kerja. Kemitraan Republikorp dengan Barzan Holdings dari Qatar disebut sebagai salah satu modal awal untuk mendukung kolaborasi industri pertahanan dalam kerangka Badr Initiative. Ia berharap tindak lanjutnya menghasilkan manfaat nyata bagi seluruh pihak.
Kesepakatan Badr ditandatangani di Doha pada Rabu (21/10) oleh pejabat pertahanan Indonesia, Türkiye, Qatar, dan Pakistan. Penandatangan dari Indonesia ialah Wakil Menteri Pertahanan RI Yusuf Jauhari. Türkiye diwakili Menteri Pertahanan Nasional Yasar Guler dan Kepala Sekretariat Industri Pertahanan Haluk Gorgun, Qatar oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Negara Urusan Pertahanan Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani, sedangkan Pakistan diwakili Menteri Pertahanan Khawaja Muhammad Asif.
Memorandum tersebut menetapkan kerja sama produksi militer, peningkatan kemampuan pertahanan, riset, pengembangan teknis, dan latihan. Penentuan proyek akan melibatkan Badan Eksekutif untuk mengidentifikasi usulan serta Badan Strategis untuk menetapkan jadwal dan memberikan persetujuan. Mekanisme ini ditujukan agar proyek pertahanan dan dirgantara dapat berjalan terarah. Industri pertahanan Türkiye diperkirakan memegang porsi besar karena ekosistemnya telah berkembang, tetapi pendekatannya diarahkan pada pengembangan bersama, peningkatan kemampuan mitra, dan pembangunan infrastruktur, bukan hanya penjualan produk akhir.
Tag: Politik, Pertahanan, Badr Initiative, Industri Pertahanan, Kerja Sama Internasional