Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Inggris Targetkan Kesiapan Perang dalam 1.000 Hari

2026-10-26 18:30 WIB · aindari · 👁 353 dibaca

Pemerintah Inggris memperkuat kesiapan pertahanan dan ketahanan sipil menghadapi ancaman militer, siber, kejahatan terorganisasi, serta risiko terhadap infrastruktur vital.

Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperkirakan negaranya dan sekutu NATO memiliki waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik. Dalam tulisan yang dimuat The Telegraph, ia menyebut negara-negara yang memusuhi Inggris berpotensi memiliki kemampuan untuk menyerang sekitar 2030. Karena itu, Inggris ingin mencapai kondisi siap bertempur sekaligus mampu memenangkan perang sebelum batas waktu tersebut.

Streeting menilai perubahan utama bukan terletak pada niat lawan, melainkan pada peningkatan kapasitas militer dan ekonomi perang mereka. Ia menyebut ancaman yang dihadapi Inggris kini lebih besar dibandingkan sebagian besar masa hidupnya. Peringatan itu mencakup potensi serangan dari negara bermusuhan, serangan siber, kejahatan terorganisasi, perubahan iklim, serta gangguan terhadap infrastruktur penting.

Pemerintah Inggris meluncurkan kampanye Be Ready bersamaan dengan peringatan tersebut. Program ini meminta setiap rumah tangga menyiapkan kebutuhan dasar untuk bertahan selama tiga hari bila terjadi keadaan darurat nasional. Daftar persiapan mencakup air minum, makanan tahan lama, uang tunai, dan barang penting lain. Pemerintah menegaskan kampanye itu ditujukan untuk membangun ketahanan nasional, bukan dipicu oleh informasi intelijen tertentu.

Streeting juga mendorong rumah tangga dan pelaku usaha menilai kesiapan mereka menghadapi gangguan. Menurutnya, ancaman yang sebelumnya kerap disebut perang hibrida atau ancaman zona abu-abu kini perlu dipandang sebagai risiko nyata yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Inggris. Ia memperingatkan, perkembangan kecerdasan buatan dapat memudahkan pelaku serangan siber menembus pertahanan konvensional sehingga insiden semacam itu berpotensi makin sering terjadi.

Pemerintah merujuk kerentanan perangkat lunak PHP yang terungkap pada Rabu sebagai contoh perlunya kesiapsiagaan digital. Peristiwa itu mendorong pemerintah dan perusahaan di berbagai negara memperkuat sistem mereka, memicu jutaan upaya peretasan, serta membuat sejumlah layanan tidak dapat beroperasi.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyerukan respons yang lebih dini terhadap keadaan darurat. Dalam pembahasan mengenai kebakaran hutan, ia menyatakan Inggris selama ini sering berada dalam posisi kurang siap dan mengumumkan rencana penanganan baru, termasuk penggunaan pesawat militer. Ia menekankan, persiapan tersebut bukan alasan untuk panik, melainkan langkah praktis agar sumber daya tersedia ketika situasi sulit muncul.

Langkah Inggris sejalan dengan panduan Komisi Eropa pada Maret 2025. Lembaga itu meminta warga Uni Eropa menyiapkan perlengkapan darurat untuk 72 jam, termasuk makanan, air, uang tunai, dan power bank. Seruan tersebut menempatkan kesiapan rumah tangga sebagai bagian dari upaya lebih luas menghadapi gangguan keamanan dan bencana.

Tag: Inggris, pertahanan, kesiapsiagaan sipil, serangan siber, NATO