Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Virus Nipah Jadi Perhatian karena Risiko Penularan dan Fatalitas Tinggi

2026-07-19 06:02 WIB · aindari · 👁 462 dibaca

Virus Nipah termasuk penyakit infeksi emerging prioritas WHO karena dapat menular dari hewan ke manusia, menyebar antarmanusia, dan belum memiliki vaksin maupun obat khusus.

Virus Nipah kembali menjadi perhatian dalam isu kesehatan global karena masuk kelompok penyakit infeksi emerging yang dinilai berpotensi menimbulkan epidemi. Kementerian Kesehatan RI pada 2023 melaporkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menempatkan virus ini sebagai salah satu dari sembilan penyakit infeksi emerging prioritas. Penyakit infeksi emerging merujuk pada penyakit yang baru muncul di suatu populasi atau penyakit lama yang meningkat cepat dalam jumlah kasus maupun perluasan wilayah penyebaran.

Virus Nipah atau NiV merupakan virus RNA dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Penyakit ini bersifat zoonosis, artinya dapat berpindah dari hewan ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti kelelawar atau babi, serta melalui makanan yang tercemar air liur, urin, atau kotoran hewan pembawa virus. Selain itu, penularan antarmanusia juga dimungkinkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi.

Infeksi virus Nipah dapat menyerang beragam sel pada manusia dan hewan, termasuk yang berkaitan dengan sistem saraf, saluran pernapasan, dan kardiovaskular. Pada manusia, penyakit ini dapat berkembang menjadi radang otak yang mengancam jiwa. Tingkat fatalitas infeksi Nipah tergolong tinggi, dengan perkiraan angka kematian pada manusia berkisar 40 persen hingga 75 persen.

Laporan Kemenkes RI mencatat wabah pertama virus Nipah terjadi di Malaysia pada 1998. Saat itu terdapat 265 kasus infeksi pada manusia dan 105 kematian, sementara lebih dari satu juta babi dimusnahkan. Pada 1999, virus tersebut dilaporkan mencapai Singapura melalui impor babi terinfeksi dari Malaysia. Sejak 2001, Bangladesh juga melaporkan kemunculan Nipah secara berkala, dengan lima kali wabah tercatat hingga 2021.

Gejala awal Nipah kerap menyerupai flu atau infeksi virus lain sehingga tidak mudah dikenali sejak dini. Keluhan yang dapat muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual atau muntah, sakit tenggorokan, dan batuk. Sebagian pasien juga dapat mengalami lemas, pusing, serta gangguan pernapasan ringan. Pada perkembangan yang lebih berat, infeksi dapat memicu pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut, sehingga pasien berisiko mengalami sesak napas berat dan memerlukan perawatan intensif.

Dalam kondisi parah, virus Nipah dapat menyebabkan peradangan otak. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain mengantuk berat, kebingungan atau disorientasi, sulit berkonsentrasi, kejang, hingga koma. Hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin untuk mencegah infeksi Nipah, sehingga pencegahan bergantung pada pengendalian risiko penularan.

Kemenkes RI menganjurkan masyarakat tidak meminum nira atau aren langsung dari pohon tanpa dimasak, karena cairan itu dapat tercemar kelelawar pada malam hari. Buah perlu dicuci dan dikupas sebelum dimakan, sedangkan buah bekas gigitan kelelawar harus dibuang. Daging ternak harus dimasak hingga matang sempurna. Masyarakat juga perlu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, memakai masker saat bergejala, serta menghindari kontak langsung dengan ternak seperti babi dan kuda yang berpotensi terinfeksi. Petugas penyembelihan, tenaga kesehatan, keluarga perawat pasien, dan petugas laboratorium perlu memakai alat pelindung diri serta menjalankan pencegahan dan pengendalian infeksi sesuai standar. Meski belum ada laporan kasus Nipah di Indonesia, pemerintah meminta masyarakat tetap siaga.

Tag: Virus Nipah, Kesehatan, Penyakit Infeksi, Zoonosis, Kemenkes