Stok Beras Nasional Diproyeksikan 25 Juta Ton di Tengah Risiko Krisis Global
2026-11-01 17:08 WIB · aindari · 👁 614 dibaca
Mentan Andi Amran Sulaiman menyebut produksi domestik dan cadangan pemerintah membuat Indonesia lebih siap menghadapi gangguan rantai pasok pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kondisi pangan Indonesia relatif aman ketika sedikitnya 33 negara meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan keadaan darurat. Negara-negara tersebut mengimbau warga menyimpan makanan, air minum, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lain di rumah. Menurut Amran, kekuatan produksi dalam negeri dan cadangan beras menjadi modal Indonesia menghadapi ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan global.
Sejumlah negara menyarankan rumah tangga menyiapkan kebutuhan minimal selama 72 jam. Inggris mendorong penyimpanan makanan dan air untuk tiga hari, sedangkan Jepang meminta masyarakat menyediakan kebutuhan pokok untuk sedikitnya tiga hari dan, bila memungkinkan, hingga satu minggu. Imbauan itu berkaitan dengan risiko konflik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber terhadap infrastruktur, serta hambatan distribusi dan perdagangan.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton per 26 Oktober 2026. Pemerintah juga memperhitungkan sekitar 10 juta ton beras dari tanaman padi yang siap dipanen atau standing crop. Tambahan sekitar 10 juta ton berada di sektor hotel, restoran, dan katering. Dengan perhitungan tersebut, total ketersediaan beras nasional diperkirakan sekitar 25 juta ton.
Angka itu dibandingkan dengan kebutuhan beras nasional yang berada di kisaran 2,5 juta ton setiap bulan. Amran menilai perbandingan antara cadangan dan kebutuhan tersebut membuat Indonesia memiliki ruang menghadapi gejolak eksternal. Ia menyebut kondisi itu ditopang kerja petani, dukungan pemerintah, serta kebijakan yang diarahkan pada penguatan produksi dan kemandirian pangan.
Amran menempatkan swasembada beras tanpa impor sebagai dasar penting ketahanan pangan. Ketergantungan pada pasokan luar negeri dinilai membawa risiko ketika konflik membuat jalur perdagangan terganggu atau negara pemasok menahan ekspor. Kemampuan memproduksi pangan sendiri, menurut dia, juga memberi negara kapasitas lebih besar untuk melindungi masyarakat dari potensi tekanan harga dan gangguan pasokan global.
Untuk menjaga produksi, Kementerian Pertanian menjalankan optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan irigasi, penyediaan benih unggul, dan peningkatan produktivitas. Pemerintah juga menyiapkan langkah menghadapi perubahan iklim serta kemungkinan kekeringan. Amran meminta kondisi pangan yang relatif aman tidak menjadi alasan untuk berhenti berbenah. Produksi dan cadangan perlu terus diperkuat, sementara petani harus tetap mendapat perlindungan sebagai penopang ketahanan pangan nasional.
Tag: pertanian, ketahanan pangan, stok beras, swasembada pangan, Bulog