Mayoritas Penderita Diabetes di Indonesia Tidak Menyadari Kondisinya, Pakar FKUI Serukan Deteksi Dini
2026-07-20 17:17 WIB · aindari · 👁 641 dibaca

Lebih dari 73 persen penyandang diabetes di Indonesia belum terdiagnosis dan baru mengetahui penyakitnya setelah mengalami komplikasi serius.
Sebagian besar warga Indonesia yang mengidap diabetes ternyata tidak mengetahui bahwa mereka menyandang penyakit tersebut. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Em Yunir, menyebutkan angka penderita yang belum terdiagnosis mencapai lebih dari 73 persen. Kondisi ini membuat banyak pasien baru menyadari penyakitnya ketika datang ke fasilitas kesehatan untuk keluhan lain atau bahkan saat sudah masuk unit gawat darurat.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Yunir dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertema pencegahan kebutaan akibat retinopati diabetik yang digelar di Jakarta pada hari Senin. Ia menekankan bahwa situasi ini merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang sangat serius karena keterlambatan diagnosis berarti keterlambatan penanganan.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terbaru menunjukkan tren peningkatan prevalensi diabetes secara konsisten. Saat ini diperkirakan satu dari sepuluh penduduk Indonesia hidup dengan kondisi diabetes. Sementara itu, catatan Organisasi Diabetes Internasional (IDF) menyebutkan jumlah penyandang diabetes di Indonesia sudah melampaui 20 juta jiwa. Angka ini diproyeksikan melonjak hingga lebih dari 30 juta orang pada 2045.
Prof. Yunir menggambarkan bahwa kadar gula darah yang tidak terkendali ibarat argometer taksi yang terus bergerak makin cepat — semakin tinggi gula darah, semakin cepat pula kerusakan organ tubuh terjadi. Ia juga mengingatkan bahwa diabetes tidak hadir sendirian. Penyakit ini kerap disertai faktor risiko lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, dan kebiasaan merokok yang memperburuk kondisi pasien.
Komplikasi yang muncul akibat diabetes yang terlambat ditangani sangat beragam dan berdampak berat. Di antaranya adalah gangguan jantung, gagal ginjal yang mengharuskan pasien menjalani cuci darah, serta kerusakan retina mata atau retinopati diabetik yang dapat berujung pada kebutaan. Seluruh komplikasi ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup penderita secara drastis, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang besar bagi keluarga.
Menghadapi situasi tersebut, Prof. Yunir mengimbau masyarakat agar mengubah pola pikir terkait pemeriksaan kesehatan. Menurutnya, warga tidak perlu merasa takut untuk menjalani pemeriksaan kesehatan berkala guna mengetahui kadar gula darah sejak dini. Deteksi awal menjadi kunci utama untuk mencegah diabetes berkembang menjadi komplikasi yang lebih parah dan sulit ditangani.
Ia berharap pesan pentingnya skrining rutin ini dapat disosialisasikan secara lebih luas kepada seluruh lapisan masyarakat, sehingga angka diabetes yang tidak terdiagnosis dapat ditekan secara signifikan di masa mendatang.
Tag: diabetes, deteksi dini, retinopati diabetik, FKUI, kesehatan masyarakat