Negosiasi Nuklir Iran-AS: Trump Akui Kemajuan Diplomasi namun Tak Tutup Opsi Militer
2026-07-26 06:02 WIB · aindari · 👁 466 dibaca

Presiden Trump menyebut Iran menunjukkan keseriusan tertinggi dalam perundingan, meski ketegangan militer antara kedua negara belum mereda.
Di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak Februari lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran kini memperlihatkan sikap paling serius yang pernah ditunjukkan dalam perundingan bilateral. Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, pada Jumat (24/7).
Meski mengakui adanya kemajuan di meja diplomasi, Trump menegaskan bahwa ia belum mengambil keputusan soal kemungkinan operasi militer berskala besar terhadap Iran. Menurutnya, Washington memiliki kapabilitas penuh untuk menaikkan tekanan ke level yang jauh lebih tinggi dan telah dalam kondisi siap tempur. Namun ia mengisyaratkan bahwa jalur diplomasi merupakan pendekatan yang lebih cerdas, sementara aksi militer mungkin merupakan jalan yang lebih mudah.
Trump juga mengklarifikasi bahwa perundingan dengan Teheran melibatkan banyak pihak dari pemerintahannya, bukan hanya Utusan Khusus Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner. Wakil Presiden J.D. Vance serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio turut berperan aktif dalam proses tersebut. Ia menekankan bahwa isu nuklir Iran merupakan persoalan besar dan Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir, seraya menambahkan bahwa ia tidak ingin tergesa-gesa meskipun ada tekanan terkait pemilu paruh waktu yang dijadwalkan pada musim gugur mendatang.
Dimensi politik domestik turut mewarnai dinamika ini. Sejumlah ahli strategi dari Partai Republik dilaporkan khawatir bahwa perang melawan Iran — yang dianggap tidak populer di mata publik — berpotensi membuat partai tersebut kehilangan kursi di kedua majelis Kongres AS. Meskipun Trump sendiri tidak tercantum sebagai kandidat dalam pemilu sela November nanti, keberhasilan Partai Demokrat merebut salah satu atau kedua majelis dapat menghambat agenda pemerintahannya selama dua tahun sisa masa jabatan.
Konflik bersenjata antara AS dan Iran telah berlangsung sejak pekan-pekan terakhir, dengan Washington melancarkan serangkaian serangan ke berbagai wilayah Iran sebagai respons atas tuduhan serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang fasilitas dan pangkalan militer AS di beberapa negara kawasan.
Pertempuran ini terus terjadi meskipun kedua belah pihak sebelumnya telah menandatangani kerangka kesepakatan yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu. Kerangka tersebut dirancang untuk mengakhiri konflik yang bermula sejak Februari dan membuka jalan menuju perjanjian damai yang lebih permanen. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa implementasi kesepakatan itu masih jauh dari harapan, sementara dunia terus mengamati apakah jalur diplomasi atau eskalasi militer yang pada akhirnya akan dipilih Washington.
Tag: Iran, Amerika Serikat, Donald Trump, negosiasi nuklir, Selat Hormuz